Prinsip Keberlanjutan dalam Budidaya Sawit dan Kakao

TANJUNG SELOR, MP – Wakil Bupati (Wabup), Kilat, A.Md membuka sosialisasi budidaya tanaman perkebunan (kelapa sawit dan kakao) di Balai Desa Jelarai, Tanjung Selor pada Senin (14/9). Wabup bersama Dinas Pertanian juga menyalurkan ribuan benih kelapa sawit dan kakao kepada kelompok tani dan pekebun.
“Kelapa sawit dan kakao memiliki peluang cukup baik untuk terus dikembangkan. Tentunya dengan memperhatikan kesesuaian lahan, penerapan teknologi budidaya yang tepat, produktifitas, kualitas hasil serta prinsip-prinsip keberlanjutan,” ujar Wabup.
Diingatkan, potensi tersebut harus diikuti pengetahuan serta keterampilan petani yang memadai. Keberhasilan usaha perkebunan tidak hanya ditentukan luas lahan yang dimiliki. Tapi bagaimana lahan tersebut dikelola dengan baik. Mulai dari pemilihan bibit, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga proses panen dan paska panen.
Tercatat sebanyak 4.830 polybag benih kelapa sawit usia 4 bulan dan 11.000 polybag benih kakao siap tanam diserahkan kepada sejumlah kelompok tani. Kepala Dinas Pertanian, Kristiyanto, SP, MT berharap, bantuan disertai sosialiasi budidaya ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat petani tentang budidaya tanaman perkebunan secara optimal.
Diungkapkan, untuk kelapa sawit minimal dalam satu tahun bisa menghasilkan minimal 20 ton per hektare padahal potensinya bisa sampai 35 ton per hektare. Jika petani menghasilkan hanya 15 ton per hektare berati ada sekitar 20 ton potensi yang tidak didapatkan.
“Demikian juga dengan kakao, setiap tahunnya minimal bisa menghasilkan sekitar 800 kilogram sampai 1 ton per hektare. Tapi yang didapat masyarakat baru sekitar 300 sampai 400 kilogram per hektare. Artinya ada potensi pendapatan yang hilang,” sebutnya.(**)

Share :

Berita Terkait

Populer Post

Recent Post

Scroll to Top