Fenomena Bunuh Diri, Laki-laki Dominan Jadi Korban

BULUNGAN, mandaupost.com – Fenomena bunuh diri yang terjadi belakangan ini di Kabupaten Bulungan menjadi perhatian serius. Kasus bunuh diri menunjukkan kecenderungan bahwa laki-laki lebih sering menjadi korban. Hal ini mendapat perhatian dari kalangan psikolog yang menilai ada faktor sosial dan budaya yang kuat di baliknya.

Psikolog Amalia Laili Barokah menjelaskan, salah satu penyebab utama adalah kebiasaan bagi laki-laki yang cenderung memendam masalah sendiri dan enggan menunjukkan kelemahan di hadapan orang lain.

“Laki-laki itu cenderung tidak mau terlihat lemah. Jadi ketika mereka punya masalah, lebih sering dipendam sendiri, tidak diceritakan ke orang lain,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (28/4).

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan perempuan yang umumnya lebih terbuka dan memiliki sistem dukungan sosial yang lebih kuat, seperti berbagi cerita dengan teman atau keluarga.

“Kalau perempuan biasanya lebih terbuka, mereka punya support system. Mereka tidak masalah kalau terlihat lemah, jadi lebih mudah mencari bantuan,” jelasnya.

Amalia menyebut, tekanan sosial yang melekat pada laki-laki turut memperparah kondisi tersebut. Ada anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat dan mampu menyelesaikan masalah sendiri, sehingga mereka enggan mencari pertolongan.

“Ada istilah toxic masculinity, di mana laki-laki dituntut harus kuat. Akhirnya mereka merasa malu atau gengsi untuk bercerita ketika sedang mengalami kesulitan,” katanya.

Akibatnya, masalah yang dihadapi terus menumpuk tanpa ada penyaluran, hingga pada titik tertentu memicu perasaan putus asa.

“Karena dipendam terus, akhirnya menumpuk. Ketika sudah di titik paling bawah, mereka merasa tidak sanggup lagi dan melihat bunuh diri sebagai jalan keluar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, faktor ekonomi juga sering menjadi pemicu utama, terutama ketika laki-laki merasa memiliki tanggung jawab besar sebagai pencari nafkah.

“Banyak kasus dipicu masalah ekonomi. Laki-laki merasa harus bertanggung jawab, jadi ketika tidak mampu memenuhi itu, tekanannya jadi lebih berat,” jelasnya.

Amalia mengingatkan pentingnya peran lingkungan sekitar untuk lebih peka terhadap kondisi laki-laki yang tampak tertutup atau mulai menjauh dari interaksi sosial.

“Kalau ada yang mulai menarik diri atau berubah, sebaiknya didekati dan diajak bicara. Jangan dihakimi, tapi didukung,” katanya.

Ia juga mendorong agar stigma terhadap laki-laki yang mengekspresikan emosi mulai dihilangkan, sehingga mereka memiliki ruang aman untuk berbagi.

“Harus mulai diubah pola pikirnya, bahwa laki-laki juga boleh merasa lemah dan butuh bantuan,” tegasnya.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak ragu mencari bantuan profesional jika menghadapi tekanan mental yang berat.

“Kalau sudah tidak sanggup, segera minta bantuan. Bisa ke teman, keluarga, atau tenaga profesional. Jangan dipendam sendiri,” tutupnya.(cda)

Share :

Berita Terkait

Populer Post

Recent Post

Scroll to Top