Berita Populer

Berita Terbaru

OLAHRAGA

JAKARTA, MP – Lucas Digne sangat terpukul dalam kekalahan Prancis atas Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026. Dia yang menyebabkan lawan mendapatkan hadiah penalti.

Prancis vs Spanyol berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB. Gol-gol Spanyol lahir dari eksekusi penalti Mikel Oyarzabal di menit ke-22 dan situasi open play yang dibuat oleh Pedro Porro pada menit ke-58.

Hadiah penalti yang didapatkan Spanyol disebabkan oleh tendangan Digne kepada Lamine Yamal. Digne sebetulnya tidak melakukan itu dengan niat buruk, dia hanya ingin menyapu bola karena terlihat dari pandangannya bukan ke Yamal.

“Begitulah, akhir dari sebuah mimpi. Mimpi seorang anak kecil, dan tentu saja mimpi ribuan orang di belakang kita,” bunyi kalimat pembuka Digne di Instagram pribadinya.

“Kita selalu membayangkan begitu banyak hal, seringkali hal-hal yang paling indah. Tetapi akhir dari sebuah mimpi terkadang bisa sulit, dan kebangkitannya bahkan lebih brutal. Hal tersulit hari ini adalah menemukan kata-kata untuk mengungkapkan kekecewaan yang luar biasa ini.”

“Pertama dan terutama, saya kecewa pada diri sendiri. Kecewa tim juga, untuk semua usaha yang telah kami lakukan, dan untuk kelompok pemain yang luar biasa ini.”

“Saya juga memikirkan semua orang yang melakukan perjalanan, serta mereka yang mendukung kami dari Prancis dan seluruh dunia. Dukungan Anda telah membawa kami sepanjang petualangan ini.”

“Terlepas dari kekecewaan yang luar biasa ini, saya tetap bangga telah mewakili negara kita, dengan segala kekayaan, keragaman, dan semua orang yang membentuknya. Terima kasih untuk semuanya, untuk dukungan Anda, dan untuk semua emosi ini.”

Prancis akan berhadapan dengan Inggris dalam perebutan tempat ketiga. Duel ini berlangsung di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, Minggu (19/7/2026) subuh WIB.

“Anda luar biasa sepanjang kompetisi. Ini belum berakhir; kita masih memiliki podium yang harus kita raih,” Digne mengakhiri. (**)

JAKARTA, MP – Ada satu keyakinan yang hampir tidak pernah diperdebatkan di zaman modern. Bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik jika dibuat lebih besar. Gedung harus lebih tinggi. Mal harus lebih luas. Film harus lebih panjang.

Dan Piala Dunia, tampaknya, juga harus memiliki lebih banyak peserta. Dari 32 menjadi 48. Kini muncul lagi wacana 64.

Ironisnya, final Piala Dunia 2026 bahkan belum dimainkan. Tirai turnamen ini belum benar-benar ditutup. Namun pembicaraan untuk memperbesar Piala Dunia 2030 sudah lebih dulu melangkah. Seolah-olah, sebelum pertunjukan selesai dipentaskan, panggung berikutnya telah lebih dahulu dijual kepada penonton.

Mungkin inilah tanda zaman. Kita semakin piawai merancang pertunjukan berikutnya, tetapi semakin sulit menikmati pertunjukan yang sedang berlangsung.

Sulit untuk menolak gagasan itu. Lebih banyak negara berarti lebih banyak mimpi. Lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak cerita. Lebih banyak bendera berkibar. Lebih banyak lagu kebangsaan dikumandangkan.

Semuanya terdengar indah. Dan mungkin memang demikian. Namun hampir semua gagasan besar mempunyai satu kelemahan, sering berubah ketika bertemu dengan pasar.

Pasar hanya mengenal satu bahasa. Jika sesuatu dicintai miliaran orang, perbesar. Jika masih menghasilkan keuntungan, perpanjang. Jika penonton masih datang, tambahkan pertunjukan.

Begitulah cara industri bekerja. Dan barangkali, tanpa kita sadari, Piala Dunia perlahan mulai berbicara dengan bahasa yang sama.

Memori saya pun teringat film Gladiator. Yang membuat Colosseum terus hidup bukanlah para gladiator. Melainkan penonton yang selalu meminta satu pertarungan lagi. Satu duel lagi. Satu pertunjukan lagi.

Tak ada yang menghitung berapa tulang yang patah. Tak ada yang bertanya berapa tubuh yang kelelahan. Yang dihitung hanyalah berapa banyak pertunjukan yang masih bisa dijual.

Mungkin perbedaannya hanya satu. Gladiator bertarung dengan pedang sedangkan pesepak bola bertarung dengan kalender.

Di ruang pemulihan, kompres es ditempelkan di paha yang mulai membengkak. Seorang fisioterapis menghitung hari, bukan untuk liburan, tetapi untuk memastikan seorang pemain cukup pulih sebelum kembali ke klubnya. Beberapa hari setelah final, musim baru telah menunggu. Tubuh mereka belum tentu siap, tetapi kalender tidak pernah belajar bersabar.

Musim belum selesai. Liga baru dimulai. Kompetisi antarklub menunggu. Tim nasional memanggil. Turnamen bertambah. Piala Dunia diperbesar. Kalender terus dipenuhi.

Yang tidak pernah ikut bertambah hanyalah tubuh manusia. Hamstring tidak pernah berevolusi mengikuti rapat bisnis. Lutut tidak pernah meminta jadwal yang lebih padat. Otot tidak pernah membaca laporan pertumbuhan pendapatan. Namun setiap musim, tubuh manusialah yang diminta bernegosiasi dengan ambisi yang tidak pernah merasa cukup.

Ironisnya, kita lebih sering menghitung jumlah pertandingan daripada jumlah pemain yang pulang dengan cedera. Kita lebih hafal nilai hak siar daripada lamanya masa pemulihan seorang atlet. Kita lebih sibuk membicarakan berapa banyak negara yang akan lolos daripada bertanya berapa banyak tubuh yang harus membayar harga dari semua itu.

Mungkin memang benar. Lebih banyak negara akan merasakan atmosfer Piala Dunia. Lebih banyak suporter akan ikut berpesta. Lebih banyak kisah akan lahir. Tetapi ada satu hal yang diam-diam ikut berubah. Yaitu, makna sebuah tiket menuju Piala Dunia.

Dulu, lolos ke Piala Dunia adalah pencapaian yang nyaris mustahil. Sebuah bangsa dapat menunggu puluhan tahun hanya untuk mendengar lagu kebangsaannya berkumandang di panggung terbesar sepak bola. Kesulitannya melahirkan kehormatan. Kelangkaannya melahirkan kebanggaan.

Hari ini jalan menuju panggung itu diperlebar. Mungkin itu memang keputusan yang tepat. Tetapi setiap panggung mempunyai paradoksnya sendiri. Semakin mudah dicapai, semakin sulit mempertahankan kemegahannya. Karena yang membuat Piala Dunia begitu agung bukanlah banyaknya negara yang hadir. Melainkan sedikitnya bangsa yang berhasil tiba.

Barangkali, suatu hari nanti hampir semua negara akan bisa bermain di Piala Dunia. Dan ketika hari itu tiba, mungkin kita akan mengenangnya sebagai kemenangan besar bagi inklusivitas. Atau mungkin kita akan mengenangnya sebagai hari ketika Piala Dunia perlahan kehilangan rasa laparnya.

Seperti Colosseum yang selalu meminta satu pertunjukan lagi, kita mungkin tidak akan menyadari perubahan itu ketika sedang terjadi. Kita baru menyadarinya ketika yang tersisa hanyalah panggung yang semakin besar, pertunjukan yang semakin panjang, tetapi rasa takjub yang perlahan mengecil.

Karena ada satu ironi yang selalu berulang dalam sejarah. Bahwa manusia jarang kehilangan sesuatu karena direbut. Manusia lebih sering kehilangan sesuatu karena terus berusaha memperbesarnya.(**)

TOKYO, MP –  Putri Kusuma Wardani mengamankan tiket perempat final Japan Open 2026 setelah menendang wakil Taiwan, Huang Yu-Hsun. Putri menang dua game langsung dengan skor 21-19 dan 21-9.

Kunci Kemenangan Putri

Ditemui usai pertandingan, Putri KW mengungkapkan bahwa kunci utamanya hari ini adalah kesiapan mental dan keberanian di lapangan. Ia mengakui bahwa gaya permainan Huang Yu-Hsun cukup merepotkan karena memiliki variasi pukulan yang tidak biasa untuk sektor tunggal putri.

“Untuk pertandingan hari ini saya coba fokus pikiran dan keberaniannya dikuatkan. Saya memang membatasi bola atasnya dia tapi tidak yang setiap poin harus begitu, kalau pun harus angkat atau nge-lob yakin aja dengan pukulan berikutnya,” ungkap Putri KW.

Lebih lanjut, pebulu tangkis berusia 23 tahun itu menilai lawannya memiliki karakteristik bermain yang agresif. “Huang ini tipe bermainnya seperti tunggal putra, banyak variasi pukulan jadi cukup menyulitkan,” tuturnya menambahkan.

Siap Habis-habisan Lawan Ratu Bulu Tangkis Tiongkok

Langkah Putri di ajang BWF World Tour Super 750 ini dipastikan akan semakin berat. Di babak perempat final, ia sudah ditunggu oleh unggulan asal Tiongkok sekaligus pemain peringkat top 4 dunia, Wang Zhi Yi.

Menghadapi tantangan besar tersebut, Putri menegaskan tidak gentar. Ia bertekad untuk memberikan perlawanan maksimal demi memperebutkan tiket ke semifinal.

“Besok akan berhadapan dengan Wang Zhi Yi, tidak mudah pastinya melawan top 4 tapi saya mau habis-habisan dan mati-matian. Pikiran harus jauh lebih kuat dan tahan karena dia pasti tidak mudah dimatikan,” tegas Putri dengan optimistis.(**)

JAKARTA, MP – Prancis vs Inggris disajikan dalam perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026. Ada enam data fakta terkait laga tersebut.

Di Stadion Miami, Amerika Serikat, Prancis vs Inggris berlangsung Minggu (19/7/2026). Laga itu akan kick-off pada pukul 04.00 WIB.

Prancis kalah dari Spanyol 0-2 hingga gagal ke final Piala Dunia 2026. Sementara itu, Inggris tumbang 1-2 saat melawan Argentina. Opta mencatat ada enam data fakta dari laga itu; berikut uraiannya.

6 Data Fakta Prancis vs Inggris

1. Prancis baru kalah dua kali dalam 11 pertandingan pada tahun ini. Dalam laga lainnya, Prancis menang sembilan kali. Salah satu kekalahan Prancis ditelan dari Spanyol dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 dengan skor 0-2.

2. Inggris sudah menjalani 11 pertandingan di sepanjang tahun ini. Tim Tiga Singa menorehkan tujuh kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kali menelan kekalahan. Argentina menjadi tim yang memberikan kekalahan terbaru untuk Inggris di semifinal Piala Dunia 2026.

3. Prancis memetik kemenangan atas Inggris pada pertemuan terakhir. Momen itu terjadi di perempatfinal Piala Dunia 2022.

Bertanding di Stadion Al Bayt, Prancis mencetak gol melalui Aurelien Tchouameni dan Olivier Giroud. Gol Inggris dicetak oleh Harry Kane.

4. Kylian Mbappe menjadi pemain tersubur Prancis di Piala Dunia 2026 dengan delapan gol yang sudah dibukukan. Sementara itu, Inggris memiliki Kane dan Jude Bellingham yang telah menorehkan enam gol.

5. Inggris selalu mencetak gol dalam lima pertandingan terakhir di Piala Dunia 2026. Terakhir kali mereka gagal membobol gawang lawan adalah saat ditahan Ghana 0-0.

6. Inggris mencetak 10 gol dan kebobolan enam gol dalam enam laga terakhir. Sementara Prancis mampu mencatatkan 13 gol dan hanya kebobolan tiga gol dalam enam pertandingan.(**)

JAKARTA, MP – Marc Marquez mengungkap salah satu kunci kebangkitannya di MotoGP 2026. Juara bertahan itu mengaku sengaja mencari batas kemampuan motor sejak sesi latihan hari Jumat agar tak melakukan kesalahan fatal saat balapan.

Persaingan perebutan gelar juara MotoGP 2026 memang berjalan sangat ketat. Lima pebalap teratas klasemen hanya dipisahkan 24 poin, sehingga konsistensi diyakini bakal menjadi penentu siapa yang keluar sebagai juara dunia di akhir musim.

Marquez menjadi salah satu pebalap dengan performa paling stabil dalam beberapa seri terakhir. Setelah menyapu bersih Sprint Race dan Grand Prix Jerman, pebalap Ducati Lenovo itu kini naik ke peringkat ketiga klasemen sementara dan hanya berjarak 18 poin dari pemuncak

Kebangkitan itu terasa signifikan. Saat kembali balapan usai menjalani operasi saraf kejepit di lengan kanannya selepas MotoGP Italia di Mugello, Marquez sempat tertinggal hingga 102 poin dari puncak klasemen. Kini selisihnya tinggal 18 poin.

“Musim ini motor Aprilia melaju sangat cepat. Mereka juga terus meningkatkan levelnya,” kata Marquez, merujuk pada performa Jorge Martin, Ai Ogura, dan Marco Bezzecchi, seperti dilansir Crash.net.

Marquez kemudian menjelaskan pendekatan yang kini selalu diterapkannya sejak awal akhir pekan balapan. Strategi ini muncul setelah Marquez menjalani awal musim yang penuh frustrasi. Saat kondisi saraf di lengan kanannya masih bermasalah, ia mengaku sering terjatuh tanpa mengetahui penyebabnya.

“Saya mencoba melakukan kesalahan pada hari Jumat. Saya memulai hari Jumat dengan mengandalkan insting,” ujar pebalap asal Spanyol itu.

“Saya lebih memilih terjatuh saat itu untuk memahami di mana batasnya. Dengan begitu saya bisa bertahan saat balapan di beberapa sirkuit, seperti yang saya lakukan di Assen.”

“Pada awal musim, ketika saraf saya bermasalah, saya sering terjatuh tanpa ada peringatan. Sekarang kondisi fisik saya justru membatasi saya di beberapa area. Itu membantu saya memahami batas kemampuan,” tuturnya.

Perubahan pendekatan itu mulai membuahkan hasil. Dalam lima seri sejak Mugello, Marquez menjadi pebalap dengan perolehan poin terbanyak, yakni 133 poin. Hanya Ai Ogura yang mampu mendekatinya dengan 117 poin.

Meski begitu, Marquez mengakui paruh pertama MotoGP 2026 menjadi salah satu periode paling berat dalam kariernya. Hingga seri Jerman, ia sudah mengalami 11 kali kecelakaan, hampir menyamai total 14 crash yang dialaminya sepanjang musim 2025.

“Anda tidak bisa membayangkan betapa berat dan menegangkannya paruh pertama musim ini bagi saya,” ujar Marquez.

“Lima balapan pertama sangat sulit karena saya tidak mengerti apa yang terjadi. Saya terus terjatuh tanpa tahu penyebabnya. Saraf saya sama sekali tidak memberi peringatan.”(**)

TOKYO, MP – Para pebulu tangkis Indonesia memastikan dua tempat pada babak semifinal Japan Open 2026 setelah Putri Kusuma Wardani dan pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri memenangi pertandingan perempat final di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Jumat (17/7).

Dari empat wakil Indonesia yang turun pada babak delapan besar, Putri KW dan Fajar/Fikri berhasil melanjutkan perjalanan. Sementara itu, langkah Alwi Farhan serta pasangan ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari harus terhenti.

Putri KW Bangkit dan Menang Telak 21-4

Kejutan terbesar datang dari sektor tunggal putri. Putri Kusuma Wardani menyingkirkan unggulan kedua asal Tiongkok, Wang Zhi Yi, melalui pertarungan tiga gim dengan skor 9-21, 21-17, dan 21-4.

Putri sempat kesulitan menghadapi tekanan dan kualitas pengembalian Wang pada gim pembuka. Pemain unggulan keenam tersebut tertinggal jauh sebelum menyerahkan gim pertama dengan skor 9-21.

Permainan Putri berubah pada gim kedua. Ia mulai lebih berani meningkatkan tempo, memperpanjang reli, dan menjaga konsentrasi ketika Wang mencoba mengambil kendali pertandingan. Putri merebut gim kedua 21-17 dan membawa duel menuju gim penentuan.

Momentum itu tidak terputus. Putri mendominasi gim ketiga melalui pertahanan yang rapat dan serangan lebih terukur. Wang hanya mampu mengumpulkan empat poin sebelum Putri menutup pertandingan dengan kemenangan telak 21-4.

Hasil tersebut menjadi kemenangan pertama Putri atas Wang dalam delapan pertemuan. Pada tujuh pertemuan sebelumnya, Putri selalu gagal menaklukkan pemain papan atas Tiongkok tersebut.

Putri selanjutnya akan menghadapi wakil tuan rumah, Akane Yamaguchi, pada semifinal Sabtu, 18 Juli 2026. Laga itu akan menjadi ujian berikutnya bagi Putri setelah melewati salah satu kemenangan terpenting dalam perjalanannya di turnamen level BWF World Tour Super 750.

Fajar/Fikri Atasi Awal Sulit

Tiket semifinal kedua diperoleh Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Unggulan kedua tersebut mengalahkan pebulu tangkis ganda putra Inggris Ben Lane/Sean Vendy dalam dua gim langsung, 22-20 dan 21-13.

Fajar/Fikri tidak memperoleh kemenangan dengan mudah. Mereka sempat tertinggal 6-11 pada interval gim pertama karena Lane/Vendy mampu bermain cepat dan konsisten dalam mengarahkan bola ke area belakang lapangan.

Selepas interval, pasangan Indonesia mengubah pola permainan. Fajar/Fikri tampil lebih agresif, mempercepat tempo, dan berani mengambil inisiatif serangan. Perubahan tersebut membawa mereka menyamakan kedudukan sebelum merebut gim pertama dengan skor ketat 22-20.

Pada gim kedua, kendali pertandingan semakin jelas berada di tangan Fajar/Fikri. Tekanan yang lebih konsisten membuat Lane/Vendy kesulitan mengembangkan permainan. Pasangan Indonesia akhirnya menutup gim kedua 21-13 dan mengamankan tiket empat besar.

Selanjutnya, Fajar/Fikri akan menghadapi pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi di semifinal. Pertemuan tersebut sekaligus membuka peluang revans setelah mereka kalah tipis dari Hoki/Kobayashi pada final Denmark Open 2025.

Perjuangan Alwi Farhan Berakhir dalam Tiga Gim

Alwi Farhan gagal mengikuti langkah Putri KW dan Fajar/Fikri setelah kalah dari tunggal putra Jepang, Kodai Naraoka.

Alwi memberikan perlawanan sengit selama tiga gim, tetapi akhirnya harus mengakui keunggulan Naraoka dengan skor 18-21, 22-20, dan 18-21.

Setelah kehilangan gim pertama, Alwi mampu bertahan dalam duel panjang pada gim kedua. Ia merebut gim tersebut 22-20 dan memaksa pertandingan berlanjut ke gim penentuan.

Persaingan kembali berjalan ketat pada gim ketiga. Namun, Alwi mulai mengalami kram pada bagian paha ketika berusaha mengimbangi permainan Naraoka yang mendapat dukungan publik tuan rumah. Pertandingan akhirnya ditutup dengan kemenangan Naraoka 21-18.

Meski terhenti, perjalanan Alwi di Tokyo tetap meninggalkan catatan positif. Sebelum mencapai perempat final, ia berhasil menyingkirkan dua pemain kuat, Kenta Nishimoto dan unggulan ketujuh asal Prancis, Alex Lanier.

Ana/Trias Terhenti di Tangan Pasangan Taiwan

Hasil kurang memuaskan juga diterima Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari. Pasangan ganda putri yang dikenal sebagai Ana/Trias itu kalah dari wakil Taiwan Hsu Yin Hui/Lin Jhih Yun dengan skor 18-21 dan 15-21.

Ana/Trias sebenarnya mampu memberikan perlawanan pada gim pertama. Akan tetapi, sejumlah kesalahan sendiri dan pengembalian bola yang kurang sempurna membuat pasangan Taiwan lebih leluasa mengambil kendali.

Situasi serupa terjadi pada gim kedua. Hsu/Lin bermain lebih stabil, sedangkan Ana/Trias kesulitan menjaga kualitas pukulan. Pasangan Indonesia akhirnya menyerah 15-21 dan harus mengakhiri perjuangan di babak delapan besar.

Setelah Japan Open, Ana/Trias akan mengalihkan perhatian menuju China Open yang menjadi agenda berikutnya dalam rangkaian BWF World Tour.

Hasil Wakil Indonesia di Perempat Final Japan Open 2026

Tunggal putri
Putri Kusuma Wardani vs Wang Zhi Yi: 9-21, 21-17, 21-4.

Tunggal putra
Alwi Farhan vs Kodai Naraoka: 18-21, 22-20, 18-21.

Ganda putra
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri vs Ben Lane/Sean Vendy: 22-20, 21-13.

Ganda putri
Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari vs Hsu Yin Hui/Lin Jhih Yun: 18-21, 15-21.(**)

TOKYO, MP – Zaki Ubaidillah mengaku belajar banyak dari pertemuannya dengan Anders Antonsen di Japan Open 2026. Walau kalah, ia cukup senang dengan debutnya di turnamen Super 750 ini.

Ubed, sapaan karibnya, kalah dua gim langsung dari Antonsen dengan skor 12-21, 19-21 dalam laga 16 besar di Tokyo, Kamis (16/7). Melawan unggulan ketiga asal Denmark itu, ia mampu mengimbangi meski tetap gagal menang.

“Di gim pertama tadi masih cukup kebingungan, masih tertekan dengan temponya dia. Di gim kedua pelan-pelan saya sudah mulai tahu cara mainnya dan bola-bolanya dia sudah saya jaga juga,” kata Ubed seusai laga.

“Tapi di akhir-akhir, saya terpancing dengan permainan depannya dan dia sudah bisa antisipasi permainan saya,” imbuhnya.

Atlet 19 tahun ini mengaku tak puas karena harus angkat koper lebih cepat dari Japan Open, tapi dia tetap senang bisa menjalani debut di turnamen level atas yang sudah dinanti sejak lama.

“Hari ini dengan pengalamannya, Antonsen lebih bisa dan mengerti cara bermain yang tepat. Saya banyak belajar bagaimana dia sangat rapi dan tidak mau mudah mati sendiri,” kata Ubed

“Cukup senang bisa menang di babak pertama kemarin, debut di Super 750 tapi secara hasil tentunya belum puas,” tuturnya.

Ubed, masih menunggu informasi selanjutnya untuk tampil di China Open pekan depan. Tapi ia berharap bisa main di ajang Super 1000 tersebut.

“Saya masih daftar tunggu nomor satu di China Open minggu depan, semoga bisa main tapi di sisa waktu ini saya mau persiapan lagi dengan baik,” pungkasnya. (**)

JAKARTA, MP – Francesco Bagnaia memanfaatkan jeda paruh musim MotoGP 2026 untuk menjalani operasi pada lengan kanannya. Pebalap Ducati Lenovo itu diharapkan sudah pulih dan kembali membalap di MotoGP Inggris di Sirkuit Silverstone, 7-9 Agustus mendatang.

Bagnaia menjalani operasi endoscopic fasciotomy, prosedur yang umum dikenal sebagai operasi arm pump. Operasi tersebut dilakukan pada lengan bawah kanan dan berlangsung sukses tanpa komplikasi.

Dalam pernyataan resminya, sebagaimana dilansir dari Crash.net, Ducati menjelaskan operasi dilakukan oleh tim medis yang dipimpin Profesor Luigi Tarallo di Klinik Ortopedi Policlinico di Modena, Italia.

“Operasi berjalan sukses dan tanpa komplikasi. Selama jeda musim panas MotoGP, Francesco Bagnaia kini akan menjalani program pemulihan dan rehabilitasi sesuai jadwal,” tulis Ducati.

Tim pabrikan asal Italia itu berharap Bagnaia bisa kembali turun lintasan pada MotoGP Inggris di Silverstone, bergantung pada perkembangan proses pemulihannya.

Jeda musim panas dimanfaatkan Bagnaia untuk melakukan tindakan medis setelah mengakhiri paruh pertama musim dengan finis keenam di MotoGP Jerman.

Menariknya, sepanjang musim ini Bagnaia lebih sering mengeluhkan minimnya grip motor Ducati dibandingkan masalah fisik. Meski begitu, ia tetap memutuskan menjalani operasi arm pump agar kondisinya lebih optimal saat memasuki paruh kedua musim.

Saat ini Bagnaia masih tertahan di posisi kedelapan klasemen sementara MotoGP 2026. Juara dunia dua kali itu mengoleksi poin yang terpaut 65 angka dari pemuncak klasemen Jorge Martin.

MotoGP Inggris di Silverstone akan menjadi balapan pertama setelah jeda musim sekaligus kesempatan bagi Bagnaia untuk memangkas jarak dari para rivalnya dalam perebutan gelar juara dunia 2026.(**)

JAKARTA, MP – Vokalis Oasis, Liam Gallagher, akhirnya buka suara setelah Timnas Inggris gagal melaju ke final Piala Dunia 2026 usai takluk 1-2 dari Argentina pada laga semifinal yang berlangsung di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, Kamis, 16 Juli 2026 dini hari WIB.

Sebelumnya, Liam menjadi salah satu publik figur yang paling vokal mendukung perjalanan skuad The Three Lions. Musisi berusia 53 tahun itu bahkan sempat optimistis Inggris mampu mengangkat trofi juara dunia dan berjanji akan menyanyikan lagu ikonik Oasis, “Wonderwall”, bersama para suporter apabila Harry Kane dan kawan-kawan berhasil melaju ke final.

Namun, harapan tersebut pupus setelah Inggris yang sempat unggul lebih dulu melalui Anthony Gordon harus mengakui kebangkitan Argentina yang membalikkan keadaan lewat dua gol di babak kedua.

Tak lama setelah pertandingan usai, Liam menyampaikan reaksinya melalui akun X pribadinya. Pelantun hits “Wonderwall” itu tetap memberikan apresiasi kepada perjuangan skuad Inggris yang berhasil menembus babak empat besar turnamen.

“Salut buat para pemain. Tidak ada satu pun tim yang punya hak yang dijamin Tuhan untuk menjuarai Piala Dunia,” tulis Liam Gallagher.

Liam juga memberikan ucapan selamat kepada Argentina yang sukses memastikan tempat di final untuk ketiga kalinya di era Lionel Messi sebagai kapten tim.

“Selamat untuk Argentina, tim terbaik yang akhirnya keluar sebagai juara. Saatnya melangkah ke depan. LG x,” lanjutnya.

Liam Kritik Gaya Bermain Inggris

Selain memberikan apresiasi kepada para pemain, Liam turut melontarkan kritik terhadap pendekatan permainan Timnas Inggris di bawah pelatih Thomas Tuchel.

Menurut Liam, Inggris masih terlalu mengandalkan pendekatan yang kaku dan penuh perhitungan. Ia menilai para pemain seharusnya diberi ruang lebih untuk bermain lepas dan mengembangkan insting mereka di lapangan.

Komentar tersebut muncul setelah keputusan Tuchel menarik Anthony Gordon, pencetak gol pembuka Inggris, dan menggantinya dengan Ezri Konsa. Pergantian itu dinilai membuat Inggris bermain lebih defensif hingga akhirnya kehilangan momentum dan gagal mempertahankan keunggulan.

“Inggris tidak akan menjuarai Piala Dunia sampai kita punya mental yang lebih cerdik dan tangguh. Itu juga berlaku untuk para pelatih. Sekarang semuanya sudah terlalu teknis. Biarkan anak-anak bermain lebih bebas dan mengembangkan naluri mereka di lapangan,” ujar Liam.

Sementara itu, Argentina akan menghadapi Spanyol pada partai final Piala Dunia 2026. Tim Matador memastikan tiket ke laga puncak setelah menumbangkan Prancis dengan skor 2-0 pada semifinal yang digelar Selasa, 14 Juli 2026.(**)

ARLINGTON, MP – Spanyol berhasil melaju ke final Piala Dunia 2026. Pedro Porro ternyata tidak pernah menjadikan momen ini sebagai impian terliarnya dalam hidup.

Spanyol berhasil mengalahkan Prancis 2-0 di semifinal Piala Dunia 2026. Bertanding di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB, gol-gol La Roja lahir dari eksekusi penalti Mikel Oyarzabal di menit ke-22 dan situasi open play yang dibuat Pedro Porro pada menit ke-58.

Ini menjadi final kedua Spanyol dalam sejarah Piala Dunia. Spanyol pertama kali ke laga puncak di pentas dunia pada 2010 dan langsung menjadi juara.

Saking langkanya Spanyol berhasil ke final, bahkan menembus semifinal, maka menjadi wajar kalau Pedro Porro tak pernah bermimpi liar merasakan laga puncak ajang sepakbola terbesar ini.

“Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, jujur saja, bahkan bukan dalam mimpi terliar saya,” kata Pedro Porro, yang dikutip dari situs resmi FIFA.

“Sangat senang dengan sikap tim dari awal hingga akhir. Saya pikir kami memainkan pertandingan yang hebat, kami melakukan semua yang harus kami lakukan hari ini untuk mencapai final,” sambungnya.

Spanyol nantinya berhadapan antara pemenang di laga Inggris ve Argentina. Spanyol dua kali berhadapan dengan Inggris di Piala Dunia dengan catatan satu menang dan satu kalah. Melawan Argentina di Piala Dunia, Spanyol baru satu kali bertemu dan hasilnya kalah.(**)

Scroll to Top