Berita Populer

Berita Terbaru

OLAHRAGA

TOKYO, MP – Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri berhasil mengakhiri penantian panjang mereka. Pebulu tangkis ganda putra Indonesia itu kembali berdiri di podium tertinggi setelah menjuarai Japan Open 2026.

Fajar/Fikri memastikan gelar setelah menaklukkan pasangan kuat Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, pada fase final di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Minggu (19/7). Mereka menang dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-17.

Kemenangan tersebut sekaligus menegaskan posisi Fajar/Fikri sebagai juara sektor ganda putra Japan Open 2026. Turnamen ini masuk dalam kalender BWF World Tour Super 750 dan berlangsung pada 14 sampai 19 Juli 2026.

Bagi Fajar, hasil di Tokyo bukan sekadar tambahan trofi. Gelar tersebut memutus penantian hampir satu tahun sejak ia dan Fikri menjuarai China Open 2025.

“Pertama-tama alhamdulillah bersyukur diberikan kelancaran dan bisa menyabet gelar di Japan Open ini. Penantian hampir satu tahun setelah juara di China Open 2025,” kata Fajar seusai pertandingan dalam rilis Tim Media & Humas PBSI.

“Semoga ini jadi awal dari kebangkitan kami untuk bisa meraih gelar-gelar berikutnya,” lanjutnya.

Fajar dan Fikri memang langsung mencuri perhatian sejak mulai dipasangkan pada pertengahan 2025. Mereka bahkan menjuarai China Open 2025 ketika baru menjalani turnamen kedua sebagai pasangan.

Setelah kesuksesan tersebut, perjalanan mereka tidak selalu berujung manis. Kesempatan meraih trofi beberapa kali terlepas, termasuk ketika Fajar/Fikri harus puas menjadi runner-up Singapore Open 2026. Japan Open akhirnya menjadi panggung kebangkitan yang selama ini mereka cari.

Kedisiplinan Redam Pertahanan Kim/Seo

Kim/Seo bukan lawan yang asing bagi Fajar/Fikri. Pasangan Korea Selatan tersebut dikenal mempunyai pertahanan kukuh, kecepatan tinggi, dan kemampuan mengubah situasi tertekan menjadi serangan balik.

Fajar mengakui kualitas itu membuat Kim/Seo sulit ditaklukkan. Bola yang seharusnya sudah menghasilkan poin terkadang masih dapat dikembalikan dengan baik.

“Kelebihan Kim/Seo adalah kemampuan mereka membalikkan bola-bola yang sebenarnya sudah menyulitkan. Mereka punya pertahanan yang sangat luar biasa,” ujar Fajar.

“Tapi di pertemuan kali ini kami selalu bisa mewaspadai hal itu dan kami lebih disiplin menerapkan strategi,” sambungnya.

Kedisiplinan tersebut terlihat ketika skor memasuki fase kritis. Fajar/Fikri tidak tergesa-gesa memburu angka. Mereka tetap menjaga pola, berani memainkan reli, lalu mencari kesempatan menyerang ketika pertahanan lawan mulai terbuka.

Kemenangan atas Kim/Seo juga melanjutkan catatan positif Fajar/Fikri saat menghadapi pasangan Korea tersebut. Pada perempat final China Open 2025, Fajar/Fikri juga menang dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-14.

Fikri Soroti Kekompakan dan Komunikasi

Muhammad Shohibul Fikri menilai kemenangan di final tidak datang dengan mudah. Kim/Seo tetap memberikan tekanan dan memaksa pasangan Indonesia menjaga konsentrasi sejak awal sampai akhir.

Namun, Fajar/Fikri mampu tampil lebih solid. Mereka dapat mengambil kendali permainan dan menjalankan strategi yang telah disiapkan bersama tim pelatih.

“Mereka bukan lawan yang mudah, mereka bermain sangat baik. Hanya tadi di lapangan kami bisa lebih solid saja, bisa lebih dominan melakukan strategi dengan tepat,” kata Fikri.

“Komunikasi dengan partner dan pelatih pun sangat berjalan baik, jadi semua yang disiapkan berjalan dengan baik dari awal sampai akhir,” lanjutnya.

Komunikasi memang menjadi bagian penting dalam perjalanan Fajar/Fikri sepanjang turnamen. Sejak babak pertama, keduanya beberapa kali harus mengubah pola permainan ketika lawan mulai menemukan celah. Kemampuan membaca situasi tersebut membantu mereka melewati tekanan dan mempertahankan momentum.

Pada semifinal, Fajar/Fikri juga melewati pertandingan melelahkan melawan pasangan tuan rumah Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Mereka menang melalui tiga gim dengan skor 21-14, 19-21, dan 21-18 sebelum menantang Kim/Seo pada partai puncak.

Trofi Pertama Fajar setelah Menikah

Ada cerita personal yang membuat gelar Japan Open 2026 terasa semakin istimewa bagi Fajar. Trofi tersebut merupakan gelar pertamanya setelah menikah.

Ia pun mempersembahkan kemenangan di Tokyo secara khusus kepada sang istri.

“Gelar ini saya persembahkan secara khusus untuk istri saya karena ini gelar pertama setelah menikah,” ucap Fajar.

Kalimat singkat itu membawa sisi berbeda dari kemenangan Fajar/Fikri. Di balik pertandingan, latihan panjang, dan tekanan kompetisi, terdapat orang terdekat yang terus menemani perjalanan seorang atlet.

Sementara bagi Fikri, trofi Japan Open menjadi bayaran atas kesabaran yang terus dijaga. Ia mempersembahkan keberhasilan tersebut untuk dirinya sendiri, keluarga, orang-orang terdekat, dan para pendukung.

“Gelar ini untuk saya sendiri, buah dari kesabaran selama ini. Untuk keluarga dan orang-orang yang saya cintai dan seluruh suporter yang selalu mendukung dan mendoakan kami,” tutup Fikri.

Japan Open 2026 mungkin hanya menghasilkan satu trofi pada sebuah akhir pekan. Namun bagi Fajar/Fikri, kemenangan itu membawa lapisan cerita yang jauh lebih tebal.

Ada disiplin yang berhasil dijaga, komunikasi yang berjalan, penantian yang akhirnya berakhir, serta persembahan personal untuk orang-orang yang terus berada di belakang mereka.

Tokyo menjadi titik kebangkitan. Fajar/Fikri kini berharap trofi Japan Open bukan menjadi akhir pesta, melainkan awal dari gelar-gelar berikutnya.(**)

TOKYO, MP – Turnamen bulu tangkis bergengsi Japan Open 2026 menutup rangkaian pertandingannya dengan cerita yang cukup komplet. Ada kemenangan dua gim langsung, kebangkitan setelah kehilangan gim pembuka, sampai pertarungan ganda putri yang berhenti di batas maksimal skor bulu tangkis.

Bagi pencinta badminton Tanah Air, akhir turnamen terasa manis. Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri berhasil membawa pulang satu gelar untuk Indonesia dari sektor ganda putra turnamen BWF World Tour Super 750 tersebut.

Japan Open 2026 digelar pada 14 hingga 19 Juli dengan total hadiah USD950.000. Seluruh pertandingannya berlangsung di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Jepang.

Fajar/Fikri Gagalkan Unggulan Pertama

Sorotan utama datang dari final ganda putra. Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menundukkan unggulan pertama asal Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, dalam dua gim langsung dengan skor 21-19, 21-17.

Pertandingan berlangsung selama 45 menit. Fajar/Fikri tampil cukup tenang meski menghadapi pasangan Korea yang agresif sejak awal laga. Mereka mampu merebut gim pembuka yang ketat, kemudian menahan kebangkitan Kim/Seo pada penghujung gim kedua.

Saat kedudukan sempat imbang 17-17, pasangan Indonesia mencetak empat angka beruntun. Rangkaian poin itu langsung mengunci kemenangan sekaligus memastikan Indonesia tidak pulang dengan tangan kosong dari Tokyo.

Gelar tersebut juga menjadi titel Japan Open pertama yang diraih Fajar/Fikri setelah dipasangkan sejak pertengahan tahun lalu.

Christo Popov Redam Tuan Rumah

Pada sektor tunggal putra, Christo Popov keluar sebagai juara setelah menghentikan wakil tuan rumah, Koki Watanabe.

Pemain Prancis tersebut tampil dominan pada gim pertama. Popov hanya memberikan 11 angka kepada Watanabe sebelum menutup gim pembuka dengan kemenangan 21-11.

Watanabe memberi perlawanan lebih kuat pada gim kedua. Dukungan penonton tuan rumah membuat pertandingan terasa lebih rapat, tetapi Popov tetap mampu mengendalikan momen penting dan menyelesaikan pertandingan dengan skor 21-19 dalam tempo 49 menit.

PV Sindhu Kembali ke Podium Tertinggi

Pusarla V. Sindhu menjadi juara tunggal putri setelah mengalahkan bintang Jepang, Akane Yamaguchi. Sindhu menang dua gim langsung dengan skor kembar 21-17 dan 21-17 dalam waktu 50 menit.

Sindhu tidak membiarkan Yamaguchi terlalu lama membangun ritme. Serangan yang dalam, jangkauan luas, serta keberanian mengambil bola dari depan net membuat pemain India tersebut mampu menjaga keunggulan pada dua gim.

Hasil ini menghadirkan makna besar bagi karier Sindhu. Sebab, Japan Open 2026 menjadi titel perdananya pada turnamen level Super 750. Selain itu, ia juga tercatat sebagai pemain India pertama yang menjuarai Japan Open.

Drama 99 Menit di Final Ganda Putri

Pertandingan paling liar muncul dari sektor ganda putri. Kim Hye-jeong/Kong Hee-yong asal Korea Selatan mengalahkan Jia Yifan/Zhang Shuxian asal Tiongkok melalui tiga gim yang berakhir dengan skor 14-21, 21-15, 30-29.

Jia/Zhang sebenarnya membuka pertandingan dengan meyakinkan. Mereka merebut gim pertama 21-14, tetapi Kim/Kong membalas pada gim kedua dan memaksa pertandingan berlanjut menuju gim penentuan.

Gim ketiga berjalan nyaris tanpa ruang bernapas. Kedua pasangan terus bergantian mendapatkan kesempatan menutup pertandingan. Skor akhirnya mencapai 29-29 sebelum Kim/Kong memperoleh angka terakhir dan menyelesaikan duel selama 99 menit.

Skor 30-29 membuat final ganda putri bukan hanya menjadi pertandingan terpanjang pada hari terakhir. Laga tersebut juga menjadi penutup yang sangat tipis, satu kesalahan kecil saja dapat memindahkan trofi ke sisi lapangan berbeda.

Feng/Huang Menangi Duel Tiga Gim

Tiongkok tetap mendapatkan tempat di daftar juara melalui Feng Yanzhe/Huang Dongping. Pasangan unggulan pertama itu mengalahkan Tang Chun Man/Tse Ying Suet dari Hong Kong dengan skor 21-14, 14-21, dan 21-15.

Feng/Huang menguasai gim pembuka, tetapi kehilangan kendali pada gim kedua. Setelah pertandingan memasuki gim penentuan, pasangan China kembali bermain lebih rapi dan membatasi kesempatan lawan untuk menyerang dari area depan.

Pertandingan berlangsung selama 72 menit. Kemenangan tersebut memastikan Tiongkok membawa pulang gelar dari sektor ganda campuran.

Hasil Lengkap Final Japan Open 2026

Tunggal Putra
Christo Popov (Prancis) vs Koki Watanabe (Jepang): 21-11, 21-19

Tunggal Putri
Pusarla V. Sindhu (India) vs Akane Yamaguchi (Jepang): 21-17, 21-17

Ganda Putra
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri (Indonesia) vs Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea Selatan): 21-19, 21-17

Ganda Putri
Kim Hye-jeong/Kong Hee-yong (Korea Selatan) vs Jia Yifan/Zhang Shuxian (Tiongkok): 14-21, 21-15, 30-29

Ganda Campuran
Feng Yanzhe/Huang Dongping (Tiongkok) vs Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong): 21-14, 14-21, 21-15

Japan Open 2026 akhirnya menghasilkan lima juara dari lima negara berbeda. Prancis, India, Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok masing-masing membawa pulang satu gelar.

Indonesia mungkin hanya menempatkan satu wakil di podium tertinggi. Namun, keberhasilan Fajar/Fikri menundukkan unggulan pertama menjadikan satu trofi tersebut terasa padat, berharga, dan cukup lantang untuk menutup pekan bulu tangkis di Tokyo. (**)

LIVERPOOL, MP – Liverpool kehilangan dua sosok pemain senior untuk musim depan. Oleh karenanya, Dominik Szoboszlai siap menggantikan peran eks rekan setimnya itu

Adalah Mohamed Salah dan Andy Robertson yang tidak lagi berseragam merah-merah musim depan. Robertson sudah gabung Tottenham Hotspur setelah kontraknya di Liverpool habis.

Lalu, Salah belum menentukan klub barunya sampai saat ini. Kepergian Salah dan Robertson tidak cuma soal gol dan assist, tapi juga kepemimpinan mereka di lapangan.

Sebagai bagian dari skuad emas Liverpool di bawah Juergen Klopp, keduanya memimpin Liverpool sampai “titik darah” penghabisan musim lalu. Wajar ada kekhawatiran skuad Liverpool bakal limbung setelah Salah dan Robertson tidak ada.

Szoboszlai mengakui pasti ada bakal ada perubahan besar setelah kepergian keduanya. Tapi, sebagai salah satu pemain senior di tim dan berstatus kapten Timnas Hungaria, Szoboszlai siap mengisi peran yang ditinggalkan Salah dan Robertson.

Seperti diketahui Robertson dan Salah adalah salah satu dari empat wakil kapten. Selain itu ada Alisson Becker dan Joe Gomez.

“Saya rasa begitu (tanggung jawab lebih besar musim depan). Seperti yang Anda bilang, Mo pergi, Robbo pergi. Jadi kami kehilangan wakil kapten dan juga legenda klub,” kata Szoboszlai di situs resmi klub.

“Kami tentu akan merindukan mereka dan kini harus ada pemain lain yang menggantikan. Jika itu saya, maka saya siap melakukannya.”(**)

TOKYO, MP –  Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menembus semifinal Japan Open 2026 setelah mendepak wakil Inggris, Ben Lane/Sean Vendy. Fajar/Fikri menang dua game langsung dengan skor 22-20 dan 21-13.

Sempat Salah Strategi, Fajar/Fikri Cepat Move On

Usai laga, Fajar Alfian mengakui bahwa mereka sempat terkejut dengan gaya main Ben/Sean yang langsung tancap gas sejak awal laga. Beruntung, kematangan mental dan komunikasi yang baik membuat mereka mampu membalikkan keadaan setelah masa interval.

“Cukup mengagetkan juga mereka cepat ya, mereka bermain panjang-panjang. Kami tadi salah menggunakan strategi di awal gim pertama,” ungkap Fajar jujur.

Fajar menambahkan bahwa strategi hari ini sangat kontras dengan laga sebelumnya saat mereka meredam wakil Chinese Taipei.

“Kemarin saat melawan pasangan Chinese Taipei, kami menerapkan pola yang simple tapi berbeda dengan hari ini, kami harus bermain dengan agresif dan dengan bola cepat. Jadi setelah interval kami langsung inisiatif untuk mengubah pola dan berhasil,” lanjut Fajar mengenai kunci comeback mereka di game pertama.

Misi Balas Dendam Kontra Hoki/Kobayashi

Langkah Fajar/Fikri di semifinal dipastikan tidak akan mudah. Mereka sudah ditunggu oleh unggulan tuan rumah sekaligus rival sengit mereka, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi.

Laga ini juga mengusung misi balas dendam bagi Fajar/Fikri. Pasalnya, pada pertemuan terakhir mereka di partai puncak Denmark Open 2025 lalu, ganda putra Indonesia ini harus kalah tipis dari Hoki/Kobayashi.

Muhammad Shohibul Fikri menegaskan bahwa mereka siap habis-habisan demi mengamankan tiket ke babak final, meski tahu teror mental dari suporter tuan rumah akan sangat besar.

“Mereka pasangan yang sangat bagus, tidak mudah untuk melawan mereka. Tapi kami sama-sama punya peluang,” ujar Fikri dengan penuh optimisme.

“Yang penting kami tidak kalah semangat dan fighting spirit-nya, mengingat mereka pasti tampil penuh ambisi karena akan dapat dukungan publik tuan rumah,” tegas Fikri.

TOKYO, MP –  Alwi Farhan gagal mengatasi perlawanan wakil Jepang, Kodai Naraoka, pada perempat final Japan Open 2026. Alwi kalah rubber game dari wakil tuan rumah dengan skor 18-21, 22-20, dan 18-21.

Enggan Kalah Mudah

Menghadapi Kodai Naraoka di rumahnya sendiri jelas bukan perkara mudah. Dukungan penuh dari suporter tuan rumah membuat Kodai bermain dengan determinasi tinggi sejak awal laga. Alwi pun mengakui bahwa atmosfer penonton sempat membuatnya berada di bawah tekanan.

Namun, bukan Alwi namanya jika menyerah tanpa perlawanan. Setelah kalah di gim pertama, pebulu tangkis muda Indonesia ini bangkit secara luar biasa di gim kedua dan mencuri kemenangan kritis 22-20.

“Tetap bersyukur karena hari ini saya bisa berjuang sangat maksimal sampai akhir. Pastinya saya tidak membiarkan lawan menang dengan mudah, tidak mau menyerah dulu meskipun hasilnya kalah,” ungkap Alwi Farhan seusai laga.

Dihantam Kram Otot Paha

Memasuki gim penentu, intensitas pertandingan semakin meningkat. Alwi bahkan sempat mengalami kendala fisik berupa kram otot paha. Namun, ia enggan menjadikan hal tersebut sebagai alasan utama kekalahannya. Menurut Alwi, faktor kematangan di lapangan-lah yang membedakan hasil akhir pertandingan hari ini.

“Di gim ketiga memang ada otot paha saya yang kram, tapi dia (Kodai) pasti juga mengalami kelelahan. Pengalaman yang membedakan dari pertandingan ini,” tambah Alwi dengan sportif.

Pelajaran Berharga

Kekalahan ini jelas menjadi modal berharga bagi perkembangan karier Alwi Farhan di level senior. Alih-alih terpuruk, Alwi justru mengaku memetik banyak pelajaran penting mengenai aspek mental bertanding. Ia bahkan sudah tidak sabar untuk kembali bersua dengan Kodai Naraoka di turnamen-turnamen berikutnya.

“Good match dan saya menantikan pertemuan-pertemuan dengan dia selanjutnya. Saya belajar banyak bagaimana melawan diri sendiri, melawan keraguan, melawan rasa capek dan semua kondisi di lapangan. Saya akan kembali dengan lebih kuat,” tegasnya optimistis.(**)

JAKARTA, MP – Lucas Digne sangat terpukul dalam kekalahan Prancis atas Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026. Dia yang menyebabkan lawan mendapatkan hadiah penalti.

Prancis vs Spanyol berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB. Gol-gol Spanyol lahir dari eksekusi penalti Mikel Oyarzabal di menit ke-22 dan situasi open play yang dibuat oleh Pedro Porro pada menit ke-58.

Hadiah penalti yang didapatkan Spanyol disebabkan oleh tendangan Digne kepada Lamine Yamal. Digne sebetulnya tidak melakukan itu dengan niat buruk, dia hanya ingin menyapu bola karena terlihat dari pandangannya bukan ke Yamal.

“Begitulah, akhir dari sebuah mimpi. Mimpi seorang anak kecil, dan tentu saja mimpi ribuan orang di belakang kita,” bunyi kalimat pembuka Digne di Instagram pribadinya.

“Kita selalu membayangkan begitu banyak hal, seringkali hal-hal yang paling indah. Tetapi akhir dari sebuah mimpi terkadang bisa sulit, dan kebangkitannya bahkan lebih brutal. Hal tersulit hari ini adalah menemukan kata-kata untuk mengungkapkan kekecewaan yang luar biasa ini.”

“Pertama dan terutama, saya kecewa pada diri sendiri. Kecewa tim juga, untuk semua usaha yang telah kami lakukan, dan untuk kelompok pemain yang luar biasa ini.”

“Saya juga memikirkan semua orang yang melakukan perjalanan, serta mereka yang mendukung kami dari Prancis dan seluruh dunia. Dukungan Anda telah membawa kami sepanjang petualangan ini.”

“Terlepas dari kekecewaan yang luar biasa ini, saya tetap bangga telah mewakili negara kita, dengan segala kekayaan, keragaman, dan semua orang yang membentuknya. Terima kasih untuk semuanya, untuk dukungan Anda, dan untuk semua emosi ini.”

Prancis akan berhadapan dengan Inggris dalam perebutan tempat ketiga. Duel ini berlangsung di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, Minggu (19/7/2026) subuh WIB.

“Anda luar biasa sepanjang kompetisi. Ini belum berakhir; kita masih memiliki podium yang harus kita raih,” Digne mengakhiri. (**)

JAKARTA, MP – Ada satu keyakinan yang hampir tidak pernah diperdebatkan di zaman modern. Bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik jika dibuat lebih besar. Gedung harus lebih tinggi. Mal harus lebih luas. Film harus lebih panjang.

Dan Piala Dunia, tampaknya, juga harus memiliki lebih banyak peserta. Dari 32 menjadi 48. Kini muncul lagi wacana 64.

Ironisnya, final Piala Dunia 2026 bahkan belum dimainkan. Tirai turnamen ini belum benar-benar ditutup. Namun pembicaraan untuk memperbesar Piala Dunia 2030 sudah lebih dulu melangkah. Seolah-olah, sebelum pertunjukan selesai dipentaskan, panggung berikutnya telah lebih dahulu dijual kepada penonton.

Mungkin inilah tanda zaman. Kita semakin piawai merancang pertunjukan berikutnya, tetapi semakin sulit menikmati pertunjukan yang sedang berlangsung.

Sulit untuk menolak gagasan itu. Lebih banyak negara berarti lebih banyak mimpi. Lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak cerita. Lebih banyak bendera berkibar. Lebih banyak lagu kebangsaan dikumandangkan.

Semuanya terdengar indah. Dan mungkin memang demikian. Namun hampir semua gagasan besar mempunyai satu kelemahan, sering berubah ketika bertemu dengan pasar.

Pasar hanya mengenal satu bahasa. Jika sesuatu dicintai miliaran orang, perbesar. Jika masih menghasilkan keuntungan, perpanjang. Jika penonton masih datang, tambahkan pertunjukan.

Begitulah cara industri bekerja. Dan barangkali, tanpa kita sadari, Piala Dunia perlahan mulai berbicara dengan bahasa yang sama.

Memori saya pun teringat film Gladiator. Yang membuat Colosseum terus hidup bukanlah para gladiator. Melainkan penonton yang selalu meminta satu pertarungan lagi. Satu duel lagi. Satu pertunjukan lagi.

Tak ada yang menghitung berapa tulang yang patah. Tak ada yang bertanya berapa tubuh yang kelelahan. Yang dihitung hanyalah berapa banyak pertunjukan yang masih bisa dijual.

Mungkin perbedaannya hanya satu. Gladiator bertarung dengan pedang sedangkan pesepak bola bertarung dengan kalender.

Di ruang pemulihan, kompres es ditempelkan di paha yang mulai membengkak. Seorang fisioterapis menghitung hari, bukan untuk liburan, tetapi untuk memastikan seorang pemain cukup pulih sebelum kembali ke klubnya. Beberapa hari setelah final, musim baru telah menunggu. Tubuh mereka belum tentu siap, tetapi kalender tidak pernah belajar bersabar.

Musim belum selesai. Liga baru dimulai. Kompetisi antarklub menunggu. Tim nasional memanggil. Turnamen bertambah. Piala Dunia diperbesar. Kalender terus dipenuhi.

Yang tidak pernah ikut bertambah hanyalah tubuh manusia. Hamstring tidak pernah berevolusi mengikuti rapat bisnis. Lutut tidak pernah meminta jadwal yang lebih padat. Otot tidak pernah membaca laporan pertumbuhan pendapatan. Namun setiap musim, tubuh manusialah yang diminta bernegosiasi dengan ambisi yang tidak pernah merasa cukup.

Ironisnya, kita lebih sering menghitung jumlah pertandingan daripada jumlah pemain yang pulang dengan cedera. Kita lebih hafal nilai hak siar daripada lamanya masa pemulihan seorang atlet. Kita lebih sibuk membicarakan berapa banyak negara yang akan lolos daripada bertanya berapa banyak tubuh yang harus membayar harga dari semua itu.

Mungkin memang benar. Lebih banyak negara akan merasakan atmosfer Piala Dunia. Lebih banyak suporter akan ikut berpesta. Lebih banyak kisah akan lahir. Tetapi ada satu hal yang diam-diam ikut berubah. Yaitu, makna sebuah tiket menuju Piala Dunia.

Dulu, lolos ke Piala Dunia adalah pencapaian yang nyaris mustahil. Sebuah bangsa dapat menunggu puluhan tahun hanya untuk mendengar lagu kebangsaannya berkumandang di panggung terbesar sepak bola. Kesulitannya melahirkan kehormatan. Kelangkaannya melahirkan kebanggaan.

Hari ini jalan menuju panggung itu diperlebar. Mungkin itu memang keputusan yang tepat. Tetapi setiap panggung mempunyai paradoksnya sendiri. Semakin mudah dicapai, semakin sulit mempertahankan kemegahannya. Karena yang membuat Piala Dunia begitu agung bukanlah banyaknya negara yang hadir. Melainkan sedikitnya bangsa yang berhasil tiba.

Barangkali, suatu hari nanti hampir semua negara akan bisa bermain di Piala Dunia. Dan ketika hari itu tiba, mungkin kita akan mengenangnya sebagai kemenangan besar bagi inklusivitas. Atau mungkin kita akan mengenangnya sebagai hari ketika Piala Dunia perlahan kehilangan rasa laparnya.

Seperti Colosseum yang selalu meminta satu pertunjukan lagi, kita mungkin tidak akan menyadari perubahan itu ketika sedang terjadi. Kita baru menyadarinya ketika yang tersisa hanyalah panggung yang semakin besar, pertunjukan yang semakin panjang, tetapi rasa takjub yang perlahan mengecil.

Karena ada satu ironi yang selalu berulang dalam sejarah. Bahwa manusia jarang kehilangan sesuatu karena direbut. Manusia lebih sering kehilangan sesuatu karena terus berusaha memperbesarnya.(**)

TOKYO, MP –  Putri Kusuma Wardani mengamankan tiket perempat final Japan Open 2026 setelah menendang wakil Taiwan, Huang Yu-Hsun. Putri menang dua game langsung dengan skor 21-19 dan 21-9.

Kunci Kemenangan Putri

Ditemui usai pertandingan, Putri KW mengungkapkan bahwa kunci utamanya hari ini adalah kesiapan mental dan keberanian di lapangan. Ia mengakui bahwa gaya permainan Huang Yu-Hsun cukup merepotkan karena memiliki variasi pukulan yang tidak biasa untuk sektor tunggal putri.

“Untuk pertandingan hari ini saya coba fokus pikiran dan keberaniannya dikuatkan. Saya memang membatasi bola atasnya dia tapi tidak yang setiap poin harus begitu, kalau pun harus angkat atau nge-lob yakin aja dengan pukulan berikutnya,” ungkap Putri KW.

Lebih lanjut, pebulu tangkis berusia 23 tahun itu menilai lawannya memiliki karakteristik bermain yang agresif. “Huang ini tipe bermainnya seperti tunggal putra, banyak variasi pukulan jadi cukup menyulitkan,” tuturnya menambahkan.

Siap Habis-habisan Lawan Ratu Bulu Tangkis Tiongkok

Langkah Putri di ajang BWF World Tour Super 750 ini dipastikan akan semakin berat. Di babak perempat final, ia sudah ditunggu oleh unggulan asal Tiongkok sekaligus pemain peringkat top 4 dunia, Wang Zhi Yi.

Menghadapi tantangan besar tersebut, Putri menegaskan tidak gentar. Ia bertekad untuk memberikan perlawanan maksimal demi memperebutkan tiket ke semifinal.

“Besok akan berhadapan dengan Wang Zhi Yi, tidak mudah pastinya melawan top 4 tapi saya mau habis-habisan dan mati-matian. Pikiran harus jauh lebih kuat dan tahan karena dia pasti tidak mudah dimatikan,” tegas Putri dengan optimistis.(**)

JAKARTA, MP – Prancis vs Inggris disajikan dalam perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026. Ada enam data fakta terkait laga tersebut.

Di Stadion Miami, Amerika Serikat, Prancis vs Inggris berlangsung Minggu (19/7/2026). Laga itu akan kick-off pada pukul 04.00 WIB.

Prancis kalah dari Spanyol 0-2 hingga gagal ke final Piala Dunia 2026. Sementara itu, Inggris tumbang 1-2 saat melawan Argentina. Opta mencatat ada enam data fakta dari laga itu; berikut uraiannya.

6 Data Fakta Prancis vs Inggris

1. Prancis baru kalah dua kali dalam 11 pertandingan pada tahun ini. Dalam laga lainnya, Prancis menang sembilan kali. Salah satu kekalahan Prancis ditelan dari Spanyol dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 dengan skor 0-2.

2. Inggris sudah menjalani 11 pertandingan di sepanjang tahun ini. Tim Tiga Singa menorehkan tujuh kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kali menelan kekalahan. Argentina menjadi tim yang memberikan kekalahan terbaru untuk Inggris di semifinal Piala Dunia 2026.

3. Prancis memetik kemenangan atas Inggris pada pertemuan terakhir. Momen itu terjadi di perempatfinal Piala Dunia 2022.

Bertanding di Stadion Al Bayt, Prancis mencetak gol melalui Aurelien Tchouameni dan Olivier Giroud. Gol Inggris dicetak oleh Harry Kane.

4. Kylian Mbappe menjadi pemain tersubur Prancis di Piala Dunia 2026 dengan delapan gol yang sudah dibukukan. Sementara itu, Inggris memiliki Kane dan Jude Bellingham yang telah menorehkan enam gol.

5. Inggris selalu mencetak gol dalam lima pertandingan terakhir di Piala Dunia 2026. Terakhir kali mereka gagal membobol gawang lawan adalah saat ditahan Ghana 0-0.

6. Inggris mencetak 10 gol dan kebobolan enam gol dalam enam laga terakhir. Sementara Prancis mampu mencatatkan 13 gol dan hanya kebobolan tiga gol dalam enam pertandingan.(**)

JAKARTA, MP – Marc Marquez mengungkap salah satu kunci kebangkitannya di MotoGP 2026. Juara bertahan itu mengaku sengaja mencari batas kemampuan motor sejak sesi latihan hari Jumat agar tak melakukan kesalahan fatal saat balapan.

Persaingan perebutan gelar juara MotoGP 2026 memang berjalan sangat ketat. Lima pebalap teratas klasemen hanya dipisahkan 24 poin, sehingga konsistensi diyakini bakal menjadi penentu siapa yang keluar sebagai juara dunia di akhir musim.

Marquez menjadi salah satu pebalap dengan performa paling stabil dalam beberapa seri terakhir. Setelah menyapu bersih Sprint Race dan Grand Prix Jerman, pebalap Ducati Lenovo itu kini naik ke peringkat ketiga klasemen sementara dan hanya berjarak 18 poin dari pemuncak

Kebangkitan itu terasa signifikan. Saat kembali balapan usai menjalani operasi saraf kejepit di lengan kanannya selepas MotoGP Italia di Mugello, Marquez sempat tertinggal hingga 102 poin dari puncak klasemen. Kini selisihnya tinggal 18 poin.

“Musim ini motor Aprilia melaju sangat cepat. Mereka juga terus meningkatkan levelnya,” kata Marquez, merujuk pada performa Jorge Martin, Ai Ogura, dan Marco Bezzecchi, seperti dilansir Crash.net.

Marquez kemudian menjelaskan pendekatan yang kini selalu diterapkannya sejak awal akhir pekan balapan. Strategi ini muncul setelah Marquez menjalani awal musim yang penuh frustrasi. Saat kondisi saraf di lengan kanannya masih bermasalah, ia mengaku sering terjatuh tanpa mengetahui penyebabnya.

“Saya mencoba melakukan kesalahan pada hari Jumat. Saya memulai hari Jumat dengan mengandalkan insting,” ujar pebalap asal Spanyol itu.

“Saya lebih memilih terjatuh saat itu untuk memahami di mana batasnya. Dengan begitu saya bisa bertahan saat balapan di beberapa sirkuit, seperti yang saya lakukan di Assen.”

“Pada awal musim, ketika saraf saya bermasalah, saya sering terjatuh tanpa ada peringatan. Sekarang kondisi fisik saya justru membatasi saya di beberapa area. Itu membantu saya memahami batas kemampuan,” tuturnya.

Perubahan pendekatan itu mulai membuahkan hasil. Dalam lima seri sejak Mugello, Marquez menjadi pebalap dengan perolehan poin terbanyak, yakni 133 poin. Hanya Ai Ogura yang mampu mendekatinya dengan 117 poin.

Meski begitu, Marquez mengakui paruh pertama MotoGP 2026 menjadi salah satu periode paling berat dalam kariernya. Hingga seri Jerman, ia sudah mengalami 11 kali kecelakaan, hampir menyamai total 14 crash yang dialaminya sepanjang musim 2025.

“Anda tidak bisa membayangkan betapa berat dan menegangkannya paruh pertama musim ini bagi saya,” ujar Marquez.

“Lima balapan pertama sangat sulit karena saya tidak mengerti apa yang terjadi. Saya terus terjatuh tanpa tahu penyebabnya. Saraf saya sama sekali tidak memberi peringatan.”(**)

Scroll to Top