May Day 2026: 46 Tuntutan Kembali Disuarakan, Buruh Tagih Janji Pemerintah

TANJUNG SELOR, mandaupost.com – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2026 di Kalimantan Utara kembali diwarnai gelombang desakan dari kalangan pekerja. Buruh menilai pemerintah belum menunjukkan langkah nyata terhadap berbagai tuntutan yang selama ini terus disuarakan.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Serikat Buruh Perjuangan Indonesia (SBPI) Kaltara, Joko Supriyadi, menegaskan bahwa May Day tahun ini menjadi momentum untuk menagih janji yang dinilai masih menggantung tanpa kepastian.

“Sudah terlalu lama tuntutan ini disampaikan, tapi belum ada kejelasan. Pemerintah tidak bisa terus diam,” ujarnya, Rabu (29/4).

Puluhan tuntutan kembali digelindingkan, hasil dari penjaringan aspirasi buruh dan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Isinya tak hanya menyangkut pekerja formal, tetapi juga menyentuh persoalan yang dihadapi sopir, pekerja informal, hingga pelaku usaha kecil.

Isu krusial seperti sistem outsourcing, perlindungan tenaga kerja lokal, hingga dampak kebijakan terhadap sumber penghidupan masyarakat menjadi sorotan utama. Buruh menilai sejumlah kebijakan justru mempersempit ruang kerja dan mengancam keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil.

Tak hanya itu, persoalan lahan yang dihadapi petani, ketimpangan pembangunan infrastruktur di wilayah pesisir, hingga lemahnya keberpihakan terhadap UMKM juga ikut masuk dalam daftar tuntutan.

Buruh menilai, tanpa langkah konkret dari pemerintah, persoalan-persoalan tersebut hanya akan terus berulang setiap tahun tanpa solusi.

Dalam peringatan May Day kali ini, buruh tetap akan menyuarakan tuntutan tersebut melalui forum yang telah disiapkan. Penyampaian aspirasi direncanakan berlangsung di salah satu kafe di Tanjung Selor, dengan fasilitasi dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Utara.

Meski diformat dalam bentuk dialog, buruh mengingatkan agar forum tersebut tidak menjadi sekadar ajang formalitas tanpa hasil nyata.

“Jangan sampai ini hanya jadi ruang bicara tanpa keputusan. Kami butuh tindakan, bukan sekadar janji,” tegas Joko.

Ia juga menegaskan, kesabaran buruh memiliki batas. Jika tuntutan yang disampaikan kembali diabaikan, aksi dengan skala lebih besar bukan tidak mungkin akan dilakukan.

“Kalau tetap tidak ada respons, kami siap turun dengan kekuatan lebih besar. Ini soal hak dan keberlangsungan hidup,” pungkasnya.

May Day tahun ini pun menjadi ujian bagi pemerintah daerah—apakah mampu menjawab tuntutan buruh dengan kebijakan konkret, atau kembali membiarkannya menjadi daftar panjang yang tak kunjung terselesaikan.(cda)

Share :

Berita Terkait

Populer Post

Recent Post

Scroll to Top