NUNUKAN, MP – Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi hutan, tetapi juga menjadi habitat bagi beragam satwa liar dan tumbuhan dengan nilai konservasi tinggi.
Di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan, kekayaan tersebut antara lain terlihat dari keberadaan lutung banggat, kuau raja, beruang madu, macan dahan Kalimantan hingga Rafflesia pricei.
TNKM merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Kalimantan Utara dengan luas sekitar 1.271.665 hektare. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, di antaranya tercatat sekitar 96 jenis mamalia dan 200 jenis aves, serta berbagai jenis flora dan fauna yang hidup dalam ekosistem hutan pegunungan.
Di Kabupaten Nunukan, pengelolaan kawasan TNKM dilakukan melalui SPTN Wilayah I Long Bawan. Wilayah kerja ini memiliki dua unit pengelola, yakni Resort Krayan yang mengakomodasi lima kecamatan wilayah kerja dan Resort Lumbis yang mencakup Kecamatan Lumbis Hulu.
Wilayah kerja tersebut bersinggungan langsung dengan kawasan perbatasan negara. Data pengelolaan mencatat terdapat 84 desa atau pemukiman dari tujuh kecamatan, 12 lokasi objek dan daya tarik wisata alam (ODTWA), serta garis batas negara dengan Serawak sepanjang 101,24 kilometer dan Sabah sepanjang 98,99 kilometer.
Kondisi hutan dan bentang alam perbatasan menjadi ruang hidup bagi berbagai jenis satwa. Data pemantauan SPTN Wilayah I Long Bawan mencatat sedikitnya 14 jenis satwa yang termasuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor P.106 Tahun 2018.
Jenis tersebut antara lain beruang madu (Helarctos malayanus), binturong (Arctictis binturong), kijang (Muntiacus muntjak), kuau raja (Argusianus argus), kucing batu (Pardofelis marmorata), kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), landak, musang congkok, paok Kalimantan, pelanduk, rusa, trenggiling, enggang jambul dan macan dahan Kalimantan.
Salah satu jenis yang menarik perhatian adalah lutung banggat (Presbytis hosei), primata yang disebut endemik Pulau Borneo. Satwa ini hidup di habitat hutan tropis dan menjadi salah satu bagian dari kekayaan hayati yang masih tersimpan di kawasan TNKM.
Keberadaan satwa tersebut juga memperlihatkan bahwa hutan TNKM masih menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa dengan karakteristik dan kebutuhan ekologis yang berbeda.
Selain lutung banggat, kuau raja (Argusianus argus) menjadi salah satu jenis burung yang secara khusus dipantau oleh petugas TNKM.
Identifikasi terhadap kuau raja mulai dilakukan sejak 2021, kemudian pada 2022 dilaksanakan monitoring khusus untuk mengetahui sebarannya. Keberadaannya dapat dikenali melalui perjumpaan langsung, suara khas, bekas sarang, bekas areal menari hingga helai bulu.
Keanekaragaman hayati TNKM tidak hanya berasal dari satwa, di dataran tinggi bagian utara kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, terdapat Rafflesia pricei, flora endemik yang menjadi salah satu kekayaan tumbuhan penting di kawasan tersebut.
Keberadaan Rafflesia pricei mendapat perhatian dalam upaya konservasi. Perlindungannya dilakukan melalui kolaborasi dengan masyarakat adat setempat.
Sejumlah pemuda desa di sekitar habitat Rafflesia pricei dilibatkan dalam pengamatan rutin sekaligus upaya mencegah terjadinya kerusakan habitat.
Keberadaan tumbuhan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa kawasan hutan perbatasan Nunukan memiliki ekosistem yang mampu mendukung kehidupan flora dengan karakteristik khusus.
Selain satwa endemik, wilayah TNKM juga menjadi habitat bagi satwa yang memiliki tingkat ancaman konservasi tinggi.
Dalam data SPTN Wilayah I Long Bawan terdapat satwa dengan status Critically Endangered (CR), Endangered (EN), Vulnerable (VU), Near Threatened (NT), hingga Least Concern (LC).
Trenggiling (Manis javanica) menjadi salah satu satwa yang mendapat perhatian karena berstatus Critically Endangered atau kritis. Status tersebut menunjukkan tingginya risiko kepunahan satwa tersebut di alam sehingga keberadaan habitat yang aman menjadi bagian penting dalam upaya konservasinya.
Sementara itu, macan dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis) juga menjadi salah satu satwa penting yang ditemukan di kawasan tersebut. Satwa ini merupakan kucing liar yang hanya ditemukan di Pulau Kalimantan dan memiliki peran sebagai predator dalam ekosistem hutan.
Kepala SPTN Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan, S.Hut., mengatakan keberadaan berbagai satwa dilindungi menunjukkan bahwa kawasan hutan di wilayah kerjanya masih memiliki fungsi penting sebagai habitat satwa.
“Bagi kami di tingkat tapak, keberadaan satwa dilindungi seperti trenggiling, beruang madu, binturong, kuau raja, rusa, dan macan dahan Kalimantan menunjukkan bahwa hutan di wilayah kerja SPTN Wilayah I Long Bawan masih memiliki fungsi penting sebagai habitat berbagai jenis satwa,” kata Hery, Kamis (20/8/2026).
Menurut Hery, status konservasi menjadi salah satu informasi penting dalam menentukan perhatian dan prioritas pemantauan di lapangan.
Pemantauan dan pengamanan kawasan dilakukan melalui kegiatan lapangan, patroli, inventarisasi serta monitoring keanekaragaman hayati. Namun, upaya menjaga habitat tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
“Kami berharap keberadaan satwa-satwa ini tidak hanya dipandang sebagai data hasil monitoring, tetapi menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya.
Kawasan TNKM memiliki sejumlah zona pengelolaan, antara lain zona inti, zona khusus, zona pemanfaatan, zona rimba dan zona tradisional.
Di wilayah kerja SPTN Wilayah I Long Bawan, data pengelolaan mencatat zona inti seluas 24.357,86 hektare, zona khusus 57.071,71 hektare, zona pemanfaatan 7.376,49 hektare, zona rimba 63.356,02 hektare dan zona tradisional 120.547,82 hektare.
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan keberadaan berbagai jenis satwa dan tumbuhan merupakan bagian penting dari mandat konservasi TNKM.
“Keberadaan berbagai jenis satwa dilindungi di Taman Nasional Kayan Mentarang menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki nilai konservasi yang sangat penting,” kata Seno, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, keberadaan keanekaragaman hayati tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari fungsi kawasan TNKM sebagai ruang perlindungan ekosistem dan habitat berbagai jenis flora serta fauna.
Karena itu, menjaga TNKM tidak hanya berarti mempertahankan tutupan hutan. Di balik bentang alam perbatasan tersebut terdapat kehidupan yang saling terhubung, mulai dari lutung banggat dan kuau raja, Rafflesia pricei, hingga trenggiling, beruang madu dan macan dahan Kalimantan.
Bagi Kabupaten Nunukan, kekayaan tersebut menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati sekaligus potensi konservasi yang perlu dijaga bersama agar habitat dan spesies yang ada di dalamnya tetap lestari. (**)




