Berita Populer

Berita Terbaru

NASIONAL

JAKARTA, MP – Petugas kesehatan Palestina mengatakan seorang wanita melahirkan bayi yang meninggal dunia di dalam ambulans. Peristiwa memilukan itu setelah ambulans diduga ditahan oleh tentara Israel di pos pemeriksaan di Tepi Barat yang diduduki.

Dilansir AFP, Selasa (28/8/2026), wanita berusia 28 tahun itu sedang hamil enam bulan dan tidak sadarkan diri ketika petugas medis menjemputnya dari rumahnya di desa Qaryout, selatan kota Nablus, kata petugas medis Bashar Qaryouti kepada AFP.

“Dia menderita pendarahan hebat dan kondisinya sangat kritis,” kata Qaryouti.

Wanita itu diberi oksigen dan ambulans berangkat menuju rumah sakit Rafidia di Nablus. Qaryouti mengatakan mereka kesulitan mencari jalan yang tidak diblokade.

Pintu masuk ke salah satu desa terdekat ditutup, memaksa ambulans untuk melewati jalan tanah melalui kebun zaitun sebelum mencapai pos pemeriksaan Awarta, di mana sebuah gerbang ditutup dan antrean panjang kendaraan telah terbentuk.

Qaryouti mengemudi ke depan antrean dan mengaktifkan sirene ambulans. Qaryouti mengatakan bahwa tentara muncul dari menara pengawas di dekatnya sekitar 10 menit kemudian dan memerintahkannya untuk mematikan ambulans.

Qaryouti menjelaskan bahwa peralatan medis kendaraan tersebut sedang digunakan untuk menyelamatkan nyawa pasien. “Mereka memaksa saya, dengan todongan senjata, untuk mematikan kendaraan,” katanya, menambahkan bahwa para tentara menyita kartu identitas kru.

Menanggapi permintaan komentar dari AFP, militer Israel mengatakan “klaim bahwa tentara IDF menunda ambulans di pos pemeriksaan Awarta adalah salah,” dan bahwa mereka tidak menerima laporan insiden tersebut dari pihak Palestina.

Terpaksa Melahirkan di Ambulans

Karena ambulans tetap terhenti, kondisi wanita tersebut memburuk. Perawat yang mendampinginya terpaksa membantu persalinan di dalam kendaraan, kata Qaryouti.

“Bayi itu lahir meninggal,” katanya.

Setelah menunggu lebih dari 30 menit, para tentara mengembalikan kartu identitas kru dan mengizinkan ambulans untuk melanjutkan perjalanan, menurut Qaryouti.

Ketika mereka sampai di rumah sakit, “sang ibu segera dilarikan ke ruang operasi untuk menghentikan pendarahan,” kata Qaryouti.

Direktur rumah sakit Rafidia, Fouad Nafaa, mengatakan bahwa wanita itu “dicegah oleh tentara Israel untuk sampai ke rumah sakit”. Pendarahannya telah berhasil dikendalikan, dan sekarang kondisinya stabil, katanya.

Militer Israel telah melancarkan “operasi kontra-terorisme” di seluruh Tepi Barat, menyebabkan beberapa penutupan jalan di seluruh wilayah tersebut.

Operasi tersebut menyusul bentrokan mematikan pada hari Jumat antara pemukim Israel dan Palestina di desa Tell yang menewaskan dua warga Israel dan empat warga Palestina.

Kekerasan di Tepi Barat, yang diduduki Israel sejak 1967, telah meningkat sejak perang Gaza dimulai dengan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel.(**)

JAKARTA, MP – Langkah bersejarah baru saja ditorehkan Indonesia dalam kancah teknologi global. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto resmi meluncurkan fasilitas Sandbox Desain Chip Merah Putih di Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), Senin, 27 Juli 2026.

Inisiatif ini bukan sekadar proyek biasa, melainkan batu loncatan krusial untuk membangun ekosistem semikonduktor nasional yang mandiri. Brian menegaskan, peluncuran ini merupakan langkah awal yang harus dikawal ketat hingga tahap validasi, pilot project, dan produksi massal, agar produknya benar-benar memberi dampak nyata.

Tujuannya sangat strategis, yakni Indonesia diharapkan tak lagi bergantung pada pasokan asing untuk pembuatan e-paspor, e-KTP, hingga e-SIM. Langkah ini menjadi wujud nyata penguatan kedaulatan teknologi nasional.

“Semikonduktor saat ini tidak hanya sekadar komponen elektronik, tetapi menjadi fondasi daya saing ekonomi, pertahanan, dan bahkan kedaulatan teknologi suatu bangsa,” ujar Mendiktisaintek.

Unjuk Gigi Talenta Lokal

Guna mewujudkan ambisi besar tersebut, Kemendiktisaintek tak main-main dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebanyak 1.500 lulusan perguruan tinggi telah diberi pelatihan khusus agar siap terjun dan terlibat langsung di bidang desain chip.

Brian sangat optimis dengan kualitas generasi muda Tanah Air. Ia meyakini, dengan akses dan ekosistem yang tepat, talenta lokal mampu sejajar dengan pemain global.

“Sesungguhnya kualitas SDM kita bisa kita buktikan ketika akses teknologi, ketika peluang-peluang itu dibuka. Kami yakin akan banyak putra-putri terbaik kita yang bisa menekuni hal-hal yang mungkin sulit, mungkin berat. Tapi saya yakin, kalau kita perhatikan performa dan kapasitas putra-putri bangsa Indonesia, tidak kalah dengan orang-orang di luar negeri,” kata Mendiktisaintek.

Rumah Kolaborasi Lintas Sektor

Fasilitas Sandbox ini lahir dari kolaborasi pentahelix yang solid antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan BUMN. Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan Peruri melalui PT LAPI ITB bahkan telah sukses mendatangkan purwarupa chip paspor elektronik pada pertengahan Juli lalu, yang kini sedang menjalani tahap uji keandalan akhir di laboratorium.

Selain ITB, deretan kampus bergengsi lainnya seperti Telkom University, Politeknik Negeri Batam, ITS, Universitas Indonesia (UI), UGM, Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Brawijaya (UB) juga ikut turun gunung menyumbang kontribusi dalam ekosistem riset ini.

Direktur Utama Peruri, Teguh Arief Indratmoko, menjelaskan, infrastruktur modern ini akan mempercepat lahirnya inovasi-inovasi baru di bidang semikonduktor.

“Fasilitas Sandbox yang hadir di hadapan kita dirancang sebagai rumah kolaborasi bagi akademisi, industri, dan pemerintah. Dengan dukungan infrastruktur digital modern, fasilitas ini memungkinkan proses perancangan, simulasi, hingga validasi desain chip nasional dilakukan dengan jauh lebih cepat dan terintegrasi,” ujar Direktur Utama Peruri, Teguh Arief Indratmoko.

Fokus pada Keberlanjutan

Di sisi lain, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa, memaparkan, pengembangan industri ini ke depannya akan berpusat pada tiga sektor utama, yakni chip design, foundry, dan packaging. Meski demikian, ia mengingatkan perlunya dukungan investasi, regulasi yang matang, serta kepastian pasar agar ekosistem ini berkelanjutan.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza memastikan pihaknya terus menyiapkan roadmap dan kebijakan iklim usaha yang kondusif. Hal ini diharapkan mampu menopang industri turunan lainnya, mulai dari sektor elektronika, otomotif, pusat data kecerdasan buatan (AI data center), hingga industri pertahanan.

Semangat kolaborasi ini sejalan dengan visi program Diktisaintek Berdampak, yang mendorong perguruan tinggi agar tak hanya melahirkan riset di atas kertas, tetapi juga solusi nyata demi kemandirian bangsa.(**)

JAKARTA, MP – Spanyol berhasil menjadi juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina. La Roja tampil dominan atas Albiceleste.

Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina berlangsung di MetLife Stadium, East Rutherford, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Spanyol menjadi juara lewat gol tunggal Ferran Torres di menit ke-106.

Secara statistik, Spanyol sangat dominan. Pasukan Luis de la Fuente membuat 65 persen penguasaan bola serta 12 percobaan mengarah ke gawang dari 20 kesempatan.

Argentina sangat payah dalam penyerang di laga ini. Lionel Messi cs cuma punya 35 persen penguasaan bola dengan dua percobaan tanpa ada yang ke arah gawang.

Argentina bermain sangat keras di laga ini. Juara Piala Dunia 2022 itu membuat 24 pelanggaran dengan tujuh kartu kuning, satu menjadi akumulasi untuk Enzo Fernandez. Ada pula kartu merah untuk Leandro Paredes setelah laga usai.

Spanyol tercatat membuat 21 pelanggaran. Dari adangan yang dibuat Spanyol, semuanya lolos dari hukuman kartu.

Spanyol kini sudah punya dua gelar Piala Dunia, yang sebelumnya didapatkan pada 2010. Pada saat itu Spanyol menjadi juara dengan menang 1-0 melawan Belanda.(**)

LIVERPOOL, MP – Liverpool kehilangan dua sosok pemain senior untuk musim depan. Oleh karenanya, Dominik Szoboszlai siap menggantikan peran eks rekan setimnya itu

Adalah Mohamed Salah dan Andy Robertson yang tidak lagi berseragam merah-merah musim depan. Robertson sudah gabung Tottenham Hotspur setelah kontraknya di Liverpool habis.

Lalu, Salah belum menentukan klub barunya sampai saat ini. Kepergian Salah dan Robertson tidak cuma soal gol dan assist, tapi juga kepemimpinan mereka di lapangan.

Sebagai bagian dari skuad emas Liverpool di bawah Juergen Klopp, keduanya memimpin Liverpool sampai “titik darah” penghabisan musim lalu. Wajar ada kekhawatiran skuad Liverpool bakal limbung setelah Salah dan Robertson tidak ada.

Szoboszlai mengakui pasti ada bakal ada perubahan besar setelah kepergian keduanya. Tapi, sebagai salah satu pemain senior di tim dan berstatus kapten Timnas Hungaria, Szoboszlai siap mengisi peran yang ditinggalkan Salah dan Robertson.

Seperti diketahui Robertson dan Salah adalah salah satu dari empat wakil kapten. Selain itu ada Alisson Becker dan Joe Gomez.

“Saya rasa begitu (tanggung jawab lebih besar musim depan). Seperti yang Anda bilang, Mo pergi, Robbo pergi. Jadi kami kehilangan wakil kapten dan juga legenda klub,” kata Szoboszlai di situs resmi klub.

“Kami tentu akan merindukan mereka dan kini harus ada pemain lain yang menggantikan. Jika itu saya, maka saya siap melakukannya.”(**)

JAKARTA, MP – Lucas Digne sangat terpukul dalam kekalahan Prancis atas Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026. Dia yang menyebabkan lawan mendapatkan hadiah penalti.

Prancis vs Spanyol berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB. Gol-gol Spanyol lahir dari eksekusi penalti Mikel Oyarzabal di menit ke-22 dan situasi open play yang dibuat oleh Pedro Porro pada menit ke-58.

Hadiah penalti yang didapatkan Spanyol disebabkan oleh tendangan Digne kepada Lamine Yamal. Digne sebetulnya tidak melakukan itu dengan niat buruk, dia hanya ingin menyapu bola karena terlihat dari pandangannya bukan ke Yamal.

“Begitulah, akhir dari sebuah mimpi. Mimpi seorang anak kecil, dan tentu saja mimpi ribuan orang di belakang kita,” bunyi kalimat pembuka Digne di Instagram pribadinya.

“Kita selalu membayangkan begitu banyak hal, seringkali hal-hal yang paling indah. Tetapi akhir dari sebuah mimpi terkadang bisa sulit, dan kebangkitannya bahkan lebih brutal. Hal tersulit hari ini adalah menemukan kata-kata untuk mengungkapkan kekecewaan yang luar biasa ini.”

“Pertama dan terutama, saya kecewa pada diri sendiri. Kecewa tim juga, untuk semua usaha yang telah kami lakukan, dan untuk kelompok pemain yang luar biasa ini.”

“Saya juga memikirkan semua orang yang melakukan perjalanan, serta mereka yang mendukung kami dari Prancis dan seluruh dunia. Dukungan Anda telah membawa kami sepanjang petualangan ini.”

“Terlepas dari kekecewaan yang luar biasa ini, saya tetap bangga telah mewakili negara kita, dengan segala kekayaan, keragaman, dan semua orang yang membentuknya. Terima kasih untuk semuanya, untuk dukungan Anda, dan untuk semua emosi ini.”

Prancis akan berhadapan dengan Inggris dalam perebutan tempat ketiga. Duel ini berlangsung di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, Minggu (19/7/2026) subuh WIB.

“Anda luar biasa sepanjang kompetisi. Ini belum berakhir; kita masih memiliki podium yang harus kita raih,” Digne mengakhiri. (**)

JAKARTA, MP – Ada satu keyakinan yang hampir tidak pernah diperdebatkan di zaman modern. Bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik jika dibuat lebih besar. Gedung harus lebih tinggi. Mal harus lebih luas. Film harus lebih panjang.

Dan Piala Dunia, tampaknya, juga harus memiliki lebih banyak peserta. Dari 32 menjadi 48. Kini muncul lagi wacana 64.

Ironisnya, final Piala Dunia 2026 bahkan belum dimainkan. Tirai turnamen ini belum benar-benar ditutup. Namun pembicaraan untuk memperbesar Piala Dunia 2030 sudah lebih dulu melangkah. Seolah-olah, sebelum pertunjukan selesai dipentaskan, panggung berikutnya telah lebih dahulu dijual kepada penonton.

Mungkin inilah tanda zaman. Kita semakin piawai merancang pertunjukan berikutnya, tetapi semakin sulit menikmati pertunjukan yang sedang berlangsung.

Sulit untuk menolak gagasan itu. Lebih banyak negara berarti lebih banyak mimpi. Lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak cerita. Lebih banyak bendera berkibar. Lebih banyak lagu kebangsaan dikumandangkan.

Semuanya terdengar indah. Dan mungkin memang demikian. Namun hampir semua gagasan besar mempunyai satu kelemahan, sering berubah ketika bertemu dengan pasar.

Pasar hanya mengenal satu bahasa. Jika sesuatu dicintai miliaran orang, perbesar. Jika masih menghasilkan keuntungan, perpanjang. Jika penonton masih datang, tambahkan pertunjukan.

Begitulah cara industri bekerja. Dan barangkali, tanpa kita sadari, Piala Dunia perlahan mulai berbicara dengan bahasa yang sama.

Memori saya pun teringat film Gladiator. Yang membuat Colosseum terus hidup bukanlah para gladiator. Melainkan penonton yang selalu meminta satu pertarungan lagi. Satu duel lagi. Satu pertunjukan lagi.

Tak ada yang menghitung berapa tulang yang patah. Tak ada yang bertanya berapa tubuh yang kelelahan. Yang dihitung hanyalah berapa banyak pertunjukan yang masih bisa dijual.

Mungkin perbedaannya hanya satu. Gladiator bertarung dengan pedang sedangkan pesepak bola bertarung dengan kalender.

Di ruang pemulihan, kompres es ditempelkan di paha yang mulai membengkak. Seorang fisioterapis menghitung hari, bukan untuk liburan, tetapi untuk memastikan seorang pemain cukup pulih sebelum kembali ke klubnya. Beberapa hari setelah final, musim baru telah menunggu. Tubuh mereka belum tentu siap, tetapi kalender tidak pernah belajar bersabar.

Musim belum selesai. Liga baru dimulai. Kompetisi antarklub menunggu. Tim nasional memanggil. Turnamen bertambah. Piala Dunia diperbesar. Kalender terus dipenuhi.

Yang tidak pernah ikut bertambah hanyalah tubuh manusia. Hamstring tidak pernah berevolusi mengikuti rapat bisnis. Lutut tidak pernah meminta jadwal yang lebih padat. Otot tidak pernah membaca laporan pertumbuhan pendapatan. Namun setiap musim, tubuh manusialah yang diminta bernegosiasi dengan ambisi yang tidak pernah merasa cukup.

Ironisnya, kita lebih sering menghitung jumlah pertandingan daripada jumlah pemain yang pulang dengan cedera. Kita lebih hafal nilai hak siar daripada lamanya masa pemulihan seorang atlet. Kita lebih sibuk membicarakan berapa banyak negara yang akan lolos daripada bertanya berapa banyak tubuh yang harus membayar harga dari semua itu.

Mungkin memang benar. Lebih banyak negara akan merasakan atmosfer Piala Dunia. Lebih banyak suporter akan ikut berpesta. Lebih banyak kisah akan lahir. Tetapi ada satu hal yang diam-diam ikut berubah. Yaitu, makna sebuah tiket menuju Piala Dunia.

Dulu, lolos ke Piala Dunia adalah pencapaian yang nyaris mustahil. Sebuah bangsa dapat menunggu puluhan tahun hanya untuk mendengar lagu kebangsaannya berkumandang di panggung terbesar sepak bola. Kesulitannya melahirkan kehormatan. Kelangkaannya melahirkan kebanggaan.

Hari ini jalan menuju panggung itu diperlebar. Mungkin itu memang keputusan yang tepat. Tetapi setiap panggung mempunyai paradoksnya sendiri. Semakin mudah dicapai, semakin sulit mempertahankan kemegahannya. Karena yang membuat Piala Dunia begitu agung bukanlah banyaknya negara yang hadir. Melainkan sedikitnya bangsa yang berhasil tiba.

Barangkali, suatu hari nanti hampir semua negara akan bisa bermain di Piala Dunia. Dan ketika hari itu tiba, mungkin kita akan mengenangnya sebagai kemenangan besar bagi inklusivitas. Atau mungkin kita akan mengenangnya sebagai hari ketika Piala Dunia perlahan kehilangan rasa laparnya.

Seperti Colosseum yang selalu meminta satu pertunjukan lagi, kita mungkin tidak akan menyadari perubahan itu ketika sedang terjadi. Kita baru menyadarinya ketika yang tersisa hanyalah panggung yang semakin besar, pertunjukan yang semakin panjang, tetapi rasa takjub yang perlahan mengecil.

Karena ada satu ironi yang selalu berulang dalam sejarah. Bahwa manusia jarang kehilangan sesuatu karena direbut. Manusia lebih sering kehilangan sesuatu karena terus berusaha memperbesarnya.(**)

JAKARTA, MP – Prancis vs Inggris disajikan dalam perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026. Ada enam data fakta terkait laga tersebut.

Di Stadion Miami, Amerika Serikat, Prancis vs Inggris berlangsung Minggu (19/7/2026). Laga itu akan kick-off pada pukul 04.00 WIB.

Prancis kalah dari Spanyol 0-2 hingga gagal ke final Piala Dunia 2026. Sementara itu, Inggris tumbang 1-2 saat melawan Argentina. Opta mencatat ada enam data fakta dari laga itu; berikut uraiannya.

6 Data Fakta Prancis vs Inggris

1. Prancis baru kalah dua kali dalam 11 pertandingan pada tahun ini. Dalam laga lainnya, Prancis menang sembilan kali. Salah satu kekalahan Prancis ditelan dari Spanyol dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 dengan skor 0-2.

2. Inggris sudah menjalani 11 pertandingan di sepanjang tahun ini. Tim Tiga Singa menorehkan tujuh kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kali menelan kekalahan. Argentina menjadi tim yang memberikan kekalahan terbaru untuk Inggris di semifinal Piala Dunia 2026.

3. Prancis memetik kemenangan atas Inggris pada pertemuan terakhir. Momen itu terjadi di perempatfinal Piala Dunia 2022.

Bertanding di Stadion Al Bayt, Prancis mencetak gol melalui Aurelien Tchouameni dan Olivier Giroud. Gol Inggris dicetak oleh Harry Kane.

4. Kylian Mbappe menjadi pemain tersubur Prancis di Piala Dunia 2026 dengan delapan gol yang sudah dibukukan. Sementara itu, Inggris memiliki Kane dan Jude Bellingham yang telah menorehkan enam gol.

5. Inggris selalu mencetak gol dalam lima pertandingan terakhir di Piala Dunia 2026. Terakhir kali mereka gagal membobol gawang lawan adalah saat ditahan Ghana 0-0.

6. Inggris mencetak 10 gol dan kebobolan enam gol dalam enam laga terakhir. Sementara Prancis mampu mencatatkan 13 gol dan hanya kebobolan tiga gol dalam enam pertandingan.(**)

ARLINGTON, MP – Spanyol berhasil melaju ke final Piala Dunia 2026. Pedro Porro ternyata tidak pernah menjadikan momen ini sebagai impian terliarnya dalam hidup.

Spanyol berhasil mengalahkan Prancis 2-0 di semifinal Piala Dunia 2026. Bertanding di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB, gol-gol La Roja lahir dari eksekusi penalti Mikel Oyarzabal di menit ke-22 dan situasi open play yang dibuat Pedro Porro pada menit ke-58.

Ini menjadi final kedua Spanyol dalam sejarah Piala Dunia. Spanyol pertama kali ke laga puncak di pentas dunia pada 2010 dan langsung menjadi juara.

Saking langkanya Spanyol berhasil ke final, bahkan menembus semifinal, maka menjadi wajar kalau Pedro Porro tak pernah bermimpi liar merasakan laga puncak ajang sepakbola terbesar ini.

“Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, jujur saja, bahkan bukan dalam mimpi terliar saya,” kata Pedro Porro, yang dikutip dari situs resmi FIFA.

“Sangat senang dengan sikap tim dari awal hingga akhir. Saya pikir kami memainkan pertandingan yang hebat, kami melakukan semua yang harus kami lakukan hari ini untuk mencapai final,” sambungnya.

Spanyol nantinya berhadapan antara pemenang di laga Inggris ve Argentina. Spanyol dua kali berhadapan dengan Inggris di Piala Dunia dengan catatan satu menang dan satu kalah. Melawan Argentina di Piala Dunia, Spanyol baru satu kali bertemu dan hasilnya kalah.(**)

BOSTON, MP – Folarin Balogun mengakui keputusan penangguhan kartu merahnya di 16 besar Piala Dunia 2026 hadirkan beban besar. Ia jadi sulit fokus untuk menghadapi pertandingan.

Folarin Balogun jadi sorotan di Piala Dunia 2026 usai mendapat penangguhan kartu merah dari FIFA pada laga babak 16 besar saat Amerika Serikat menghadapi Belgia di 16 besar. Ia bisa tetap bermain padahal mendapatkan kartu merah saat melawan Bosnia dan Herzegovina di 32 besar.

Penangguhan kartu merah Balogun diduga tak lepas dari intervensi dari Presiden AS, Donald Trump. Trump sempat menelepon Presiden FIFA, Gianni Infantino, terkait kartu merah Balogun.

Penangguhan kartu merah ini ternyata justru bikin Balogun bermain penuh beban saat melawan Belgia. Ia tampil tak sesuai harapan hingga AS harus tersingkir usai kalah 4-1 dari Belgia.

Balogun mengakui bahwa penangguhan kartu merah ini menghadirkan tekanan untuknya. Tekanan dari banyak soal keputusan kontroversial tersebut bikin penyerang AS Monaco menghantui pikirannya. Hal tersebut bikin Balogun sulit fokus untuk menghadapi laga lawan Belgia.

“Reaksi awal saya adalah senang bisa kembali ke tim, tetapi ketika saya mulai merenung, saya tahu itu akan menimbulkan banyak kontroversi, dan saya hampir bisa melihat sedikit kegugupan pada rekan-rekan setim saya, karena ini adalah sesuatu yang sangat unik,” jelas Balogun dikutip dari CBS.

“Namun, semakin dekat dengan pertandingan, saya mencoba untuk fokus sebaik mungkin, tetapi itu sulit. Banyak gangguan dari luar, dan itu sulit dihindari,” jelasnya. (**)

 

JAKARTA, MP – Timnas Spanyol memastikan tempat di final Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 pada laga semifinal yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Rabu (15/7) dini hari WIB.

Dua gol kemenangan La Furia Roja dicetak Mikel Oyarzabal melalui titik penalti pada babak pertama dan Pedro Porro di awal babak kedua. Berkat hasil ini, Spanyol tinggal selangkah lagi untuk merebut gelar juara dunia.

Penalti Oyarzabal Bawa Spanyol Unggul

Pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi sejak menit-menit awal. Prancis sempat tampil agresif lewat kombinasi Kylian Mbappe, Bradley Barcola, dan Michael Olise, namun lini belakang Spanyol mampu meredam setiap ancaman.

Momentum pertandingan berubah pada menit ke-20 ketika Lucas Digne melakukan pelanggaran di dalam kotak penalti terhadap Lamine Yamal. Wasit Ivan Barton tanpa ragu menunjuk titik putih.

Mikel Oyarzabal yang maju sebagai algojo menjalankan tugasnya dengan sempurna pada menit ke-22. Sepakan mendatarnya mengecoh Mike Maignan dan membawa Spanyol unggul 1-0.

Prancis berusaha membalas melalui Barcola dan Mbappe, tetapi sejumlah peluang gagal berbuah gol. Les Bleus juga harus kehilangan bek tengah William Saliba yang mengalami cedera dan digantikan Maxence Lacroix pada menit ke-30.

Hingga turun minum, Spanyol tetap mempertahankan keunggulan 1-0.

Pedro Porro Gandakan Keunggulan

Didier Deschamps mencoba mengubah permainan dengan memasukkan Manu Kone pada awal babak kedua. Namun justru Spanyol yang kembali menghukum pertahanan Prancis.

Pada menit ke-58, Dani Olmo mengirim umpan matang kepada Pedro Porro yang muncul di dalam kotak penalti. Bek Tottenham Hotspur itu melepaskan tembakan sentuhan pertama yang bersarang di pojok kanan gawang Maignan untuk mengubah skor menjadi 2-0.

Gol tersebut membuat Spanyol semakin nyaman mengendalikan jalannya pertandingan, sementara Prancis dipaksa bermain lebih terbuka demi mengejar ketertinggalan.

Unai Simon Tembok Kokoh Spanyol

Meski tertinggal dua gol, Prancis tidak menyerah. Mbappe, Ousmane Dembele, hingga pemain pengganti Desire Doue terus menekan pertahanan Spanyol.

Peluang terbaik Les Bleus datang pada menit-menit akhir. Mbappe nyaris memperkecil kedudukan lewat tendangan bebas dari posisi berbahaya, tetapi bola melambung tipis di atas mistar.

Pada masa injury time, Dembele dua kali memperoleh peluang emas dari dalam kotak penalti. Namun, kiper Unai Simon tampil luar biasa dengan menggagalkan kedua peluang tersebut melalui penyelamatan gemilang.

Di sisi lain, Spanyol hampir menambah gol melalui Nico Williams yang melakukan aksi individu sebelum melepaskan tembakan tipis melebar.

Spanyol Tantang Pemenang Inggris vs Argentina

Kemenangan ini membawa Spanyol melaju ke final Piala Dunia 2026 dan akan menghadapi pemenang semifinal lainnya antara Inggris dan Argentina.

Sementara itu, Prancis harus mengubur mimpi meraih gelar juara dunia setelah gagal menembus pertahanan disiplin La Furia Roja yang tampil efektif sepanjang pertandingan.

Susunan Pemain Prancis vs Spanyol

Prancis (4-2-3-1): Mike Maignan; Jules Kounde, Dayot Upamecano, William Saliba (Maxence Lacroix 30′), Lucas Digne (Theo Hernandez 72′); Aurelien Tchouameni, Adrien Rabiot (Manu Kone 46′); Ousmane Dembele, Michael Olise (Rayan Cherki 72′), Bradley Barcola (Desire Doue 57′); Kylian Mbappe.

Spanyol (4-2-3-1): Unai Simon; Pedro Porro (Marcos Llorente 84′), Pau Cubarsi, Aymeric Laporte, Marc Cucurella; Rodri, Fabian Ruiz (Pedri 78′); Lamine Yamal, Dani Olmo (Mikel Merino 78′), Alex Baena (Nico Williams 84′); Mikel Oyarzabal (Ferran Torres 74′). (**)

Scroll to Top