Pokdarwis Paguntaka Dikukuhkan, Pemkab Nunukan Perkuat Kapasitas Keselamatan Wisata

NUNUKAN, MP – Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan mengukuhkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Paguntaka sekaligus menggelar Workshop Peningkatan Kapasitas Keselamatan Wisata selama dua hari, 11–12 September 2026, di kawasan Bosoy Batu Bedinding, Air Terjun Binusan.

Kegiatan tersebut diikuti 62 peserta yang terdiri dari pengelola SAE Lanuka, Pokdarwis Paguntaka, Pokdarwis Belaga One dan pengelola wisata Pantai Eching. Workshop juga melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara, Dinas Kesehatan, BPBD, Diskominfotik, Disbudporapar dan Basarnas Nunukan.

Dalam sambutan Bupati Nunukan H. Irwan Sabri, SE. yang disampaikan Kepala Disbudporapar Nunukan H. Surai, S.Sos., M.A.P., disampaikan bahwa pariwisata membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, Pokdarwis, pemandu wisata, pelaku usaha dan generasi muda.

“Kalau dalam olahraga kita mengenal istilah tim, maka pariwisata juga membutuhkan sebuah tim yang kuat. Ada pemerintah, ada masyarakat, ada Pokdarwis, ada pemandu wisata, ada pelaku usaha dan ada generasi muda, semua harus bergerak bersama.” tutur Suarai.

Bupati juga mengingatkan agar Pokdarwis tidak hanya memiliki nama dan kepengurusan, tetapi benar-benar aktif di lapangan dengan menjaga kebersihan, keamanan, kenyamanan dan kelestarian lingkungan.

Keselamatan menjadi bagian penting dalam pengelolaan destinasi. Pemandu harus memiliki kemampuan yang baik, pengelola memahami risiko dan masyarakat sekitar ikut menjaga keamanan serta lingkungan.

“Jangan hanya menjadi penonton, jadilah pemain di lapangan,” pesan Bupati kepada generasi muda agar ikut mengambil peran dalam pengembangan pariwisata,” ujarnnya.

Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan Andi Fajrul Syam turut mendorong anggota Pokdarwis untuk terus meningkatkan kemampuan, termasuk public speaking.

Ia berharap para anggota Pokdarwis, khususnya generasi muda, terus berkembang dan mampu mengambil peran dalam pengelolaan destinasi.

“kebutuhan dan aspirasi Pokdarwis terkait dukungan anggaran dapat disampaikan kepada Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan. Dalam sambutannya, ia turut menyinggung pentingnya memperhatikan kondisi masyarakat melalui data desil dalam melihat keterlibatan dan manfaat pengembangan pariwisata bagi warga,” jelasnnya.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Paguntaka Asmadi menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah. Ia berharap Pokdarwis mendapat ide dan masukan dari berbagai pihak agar dapat berjalan dengan baik serta ikut mendukung rencana pengembangan Desa Wisata Binusan.

“Kami meminta ide dan masukan agar Pokdarwis ini dapat berjalan dengan baik. Kepada dinas terkait lainnya, kami juga meminta saran dan masukan agar semuanya dapat berjalan dengan baik. Mari kita bersemangat dan bersama-sama membangunnya,” ujarnya.

Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar Nunukan H. Iskandar, SE., mengatakan workshop diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pariwisata, terutama dalam memahami keselamatan wisata, mengenali potensi risiko serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.

Materi kemudian diberikan dari berbagai bidang. Joned, S.Hut., M.AP., Sekretaris Disbudporapar Nunukan, memaparkan konsep Optimalisasi Wisata Air Terjun Bosoy Batu Bedinding Binusan sebagai Pusat Ekowisata dan Learning Center.

Menurutnya, pengembangan Bosoy Batu Bedinding perlu melihat potensi kawasan secara menyeluruh, mulai dari sarana prasarana dan keselamatan hingga penguatan SDM dan tata kelola ekowisata. Kawasan tersebut juga dapat dikembangkan melalui kegiatan seperti camping literasi dan budaya, outbound, kunjungan sekolah dan perguruan tinggi, pendidikan lingkungan, kegiatan seni serta berbagai kegiatan sosial.

Dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali, Ida Bagus Suryawan membekali peserta dengan pemahaman mengenai guiding dan manajemen risiko. Seorang pemandu, menurutnya, tidak cukup hanya mengetahui rute, tetapi harus mampu membaca karakter wisatawan, kondisi destinasi dan kemungkinan yang terjadi selama perjalanan.

Persiapan juga perlu mencakup kesiapan mental dan kemampuan memetakan kebutuhan wisatawan. Pemandu harus mampu mengukur kondisi rombongan, termasuk menentukan apakah perjalanan dapat dilanjutkan atau perlu mengubah rute maupun melakukan putar balik.

“Perilaku wisatawan kadang berubah. Ini merupakan bagaimana kita mengatur jadwal wisatawan dan kita mengukur. Bila tidak tercapai, mau putar balik atau lanjut ke tempat tujuan,” jelasnya.

Pemandu juga diharapkan mampu menyampaikan cerita lokal yang tidak selalu dapat ditemukan melalui internet, sehingga wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih dekat dengan karakter daerah. Materi tersebut kemudian dilanjutkan melalui praktik oleh Setya Mukti Mahanani, S.Hum., M.Sc.

Sementara itu, Rahmansyah, S.Kom., dari Diskominfotik Kabupaten Nunukan, memperkenalkan pemanfaatan teknologi untuk mendukung keselamatan wisatawan melalui sistem pelacakan berbasis Web GIS, Progressive Web App (PWA) dan dynamic geofencing.

Sistem tersebut dirancang untuk membantu pengelola memantau posisi wisatawan, melihat pergerakan di kawasan wisata dan memberikan peringatan ketika wisatawan keluar dari batas area aman. Fitur SOS juga disiapkan untuk membantu mengirimkan informasi lokasi ketika terjadi kondisi darurat.

Materi keselamatan juga diberikan melalui penerapan CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability) oleh Elsi Arung La;BI, S.Sos., M.Si., dari Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara.

Peserta diajak mengenali potensi bahaya, menilai risiko dan menyiapkan langkah pengendalian, termasuk fasilitas keselamatan, jalur evakuasi, P3K, titik kumpul, rambu serta komunikasi ketika terjadi keadaan darurat.

Dari Basarnas Nunukan, peserta mendapatkan materi mengenai pertolongan dan keselamatan di air. Jumaedi Awal menjelaskan cara mengenali kondisi darurat serta metode pertolongan seperti Reach, Throw, Row, Go dan Tow/Carry.

Pemahaman tersebut penting bagi pengelola destinasi yang memiliki aktivitas air, karena tindakan pertolongan harus dilakukan dengan kemampuan yang tepat dan tetap memperhatikan keselamatan penolong.

Selain keselamatan di air, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai jungle rescue, mulai dari pengumpulan informasi awal, pembagian area pencarian, metode pencarian hingga proses evakuasi ketika menghadapi kondisi orang hilang atau keadaan darurat di kawasan alam.

Rangkaian materi tersebut memberikan gambaran bahwa keselamatan wisata tidak berdiri sendiri. Mulai dari kesiapan pengelola dan pemandu, kondisi fasilitas, kemampuan membaca risiko, penggunaan teknologi, penanganan keadaan darurat hingga keterlibatan masyarakat menjadi bagian yang saling berkaitan.

Melalui pengukuhan Pokdarwis Paguntaka dan workshop ini, Pemkab Nunukan berharap semakin banyak masyarakat yang siap terlibat dalam pengelolaan destinasi sekaligus mampu memberikan rasa aman dan pengalaman yang baik bagi wisatawan.

Karena pariwisata bukan hanya soal tempat yang indah, tetapi juga tentang bagaimana tempat tersebut dikelola, dijaga dan memberikan pengalaman yang aman bagi setiap orang yang datang. (**)

Share :

Berita Terkait

Populer Post

Recent Post

Scroll to Top