NUNUKAN, MP – Semangat persaudaraan lintas etnis dan kepedulian terhadap sesama terasa kuat di Alun-Alun Kota Nunukan, Sabtu (5/9/2026) sore.
Masyarakat dari berbagai suku dan etnis di Kabupaten Nunukan berkumpul dalam kegiatan penggalangan dana bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mengusung tagline “Etnis Bersatu, Solidaritas untuk Kemanusiaan, untuk Bangsa”, kegiatan yang diinisiasi Forum Komunikasi Lintas Etnis (Formalin) Kabupaten Nunukan tersebut menjadi ruang bersama bagi berbagai kelompok masyarakat untuk menunjukkan kepedulian terhadap saudara sebangsa yang sedang menghadapi musibah.
Sebanyak 15 etnis dan suku yang tergabung dalam Formalin turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, di antaranya etnis Jawa, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), K2NPT, Dayak Tidung Borneo, Banjar, serta berbagai kelompok etnis lainnya.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, penggalangan dana dibuka dengan penampilan tarian khas Tidung, dilanjutkan pertunjukan Reog dari etnis Jawa.
Di penghujung acara, kebersamaan semakin terasa ketika masyarakat dari berbagai latar belakang etnis ikut menari bersama dalam tarian Gawi.
Perbedaan latar belakang budaya justru menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat Nunukan dalam satu kepedulian.
Seni dan budaya menjadi jembatan untuk mempererat persaudaraan sekaligus menyampaikan pesan bahwa kepedulian terhadap korban bencana merupakan tanggung jawab bersama.
Bupati Nunukan dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Bidang Kesra dan Pemerintahan, Joko Santosa, SH, mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Nunukan untuk memperkuat semangat kepedulian dan gotong royong melalui kegiatan penggalangan dana tersebut.
Menurutnya, jarak geografis tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menunjukkan rasa kemanusiaan. Meskipun NTT berada jauh dari Nunukan, penderitaan masyarakat yang terdampak bencana tetap menjadi keprihatinan bersama.
“Ketika saudara kita kehilangan rumah, kita akan ikut merasakan kesedihannya. Ketika ada keluarga yang kehilangan harta benda, kita pun akan ikut merasakan keprihatinannya,” ujar Joko saat membacakan sambutan Bupati Nunukan.
Ia mengatakan, masyarakat Nunukan mungkin tidak dapat mengembalikan rumah-rumah yang roboh maupun menghapus seluruh kesedihan para korban. Namun, kepedulian, doa, tenaga, dan bantuan yang diberikan dapat menjadi bentuk nyata kehadiran masyarakat Nunukan bagi saudara-saudara yang sedang membutuhkan.
Bupati juga mengingatkan agar masyarakat tidak memandang kecil setiap bentuk bantuan yang diberikan.
“Kalau belum mampu membantu banyak, bantulah walaupun sedikit. Kalau belum mampu dengan harta, bantulah dengan tenaga. Kalau belum mampu dengan tenaga, bantulah dengan doa. Tetapi jangan sampai kita kehilangan kesempatan untuk berbuat baik,” tambahnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Nunukan Muh. Mansyur dan Ustaniah, sejumlah perwakilan Forkopimda, instansi vertikal, tokoh adat, tokoh masyarakat, ketua-ketua etnis yang tergabung dalam Formalin Nunukan, serta masyarakat dan pengguna jalan di sekitar Alun-Alun Kota Nunukan.
Solidaritas juga datang dari Laskar Pemuda Adat Dayak Kalimantan Utara (LPADKT) Nunukan yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
LPADKT memberikan donasi sebesar Rp6 juta untuk membantu masyarakat terdampak bencana gempa bumi di NTT, bantuan tersebut diserahkan langsung oleh pengurus LPADKT Nunukan dalam rangkaian kegiatan penggalangan dana.
Ketua Formalin Kabupaten Nunukan, Sumari, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia secara khusus mengapresiasi partisipasi LPADKT serta seluruh kelompok etnis yang turut bergotong royong dalam aksi kemanusiaan tersebut.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan penggalangan dana ini. Terima kasih juga kepada LPADKT yang telah membantu dan memberikan donasi sebesar Rp6 juta untuk saudara-saudara kita di NTT, serta seluruh lintas etnis yang ikut mendukung kegiatan hari ini,” ujar Sumari.
Menurut Sumari, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menghimpun bantuan bagi korban bencana, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan dan keharmonisan masyarakat di Kabupaten Nunukan.
“Selain menghimpun dana untuk korban bencana alam di NTT, kami juga terus mengajak seluruh suku dan etnis yang ada di Kabupaten Nunukan untuk menjaga rasa persaudaraan dan keharmonisan yang sudah terjalin,” katanya.
Senada, Ketua Panitia H. Loding menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Nunukan yang telah ikut ambil bagian dalam meringankan beban masyarakat terdampak bencana di NTT.
Kehadiran berbagai etnis dalam satu kegiatan memperlihatkan bahwa keberagaman bukan menjadi sekat, melainkan kekuatan untuk bergerak bersama.
Dari tarian Tidung, semangat pertunjukan Reog, hingga kebersamaan dalam tarian Gawi, pesan yang muncul sore itu tidak hanya tentang budaya, tetapi juga tentang persaudaraan.
Di tengah keberagaman masyarakat Nunukan, kepedulian kemanusiaan menjadi bahasa yang menyatukan.
Dari wilayah perbatasan, masyarakat Nunukan menunjukkan bahwa rasa solidaritas tidak mengenal jarak dan perbedaan, karena ketika saudara sebangsa membutuhkan bantuan, kepedulian dapat hadir dari mana saja. (**)




