Pelatihan SMK Go Global di Sebatik Tengah, 20 CPMI Disiapkan Bersaing di Pasar Internasional

SEBATIK, TENGAH, MP – Sebanyak 20 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) mengikuti Pelatihan Plantation Worker melalui Program SMK Go Global yang dilaksanakan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Roby Perbatasan, Senin (31/08/2026)

Kegiatan pelatihan dibuka pada Senin, 31 Agustus 2026, dan dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih 15 hari. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan kesiapan calon pekerja migran agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, khususnya pada sektor perkebunan.

Selama mengikuti pelatihan, para peserta mendapatkan pembekalan keterampilan Plantation Worker, khususnya pekerjaan pada sektor perkebunan kelapa sawit. Materi yang diberikan meliputi berbagai tahapan pekerjaan perkebunan, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman hingga teknik pemanenan.

Selain keterampilan teknis, peserta juga mendapatkan pembekalan untuk meningkatkan kesiapan memasuki dunia kerja, termasuk pemahaman mengenai kedisiplinan, keselamatan kerja serta pentingnya mengikuti prosedur penempatan pekerja migran secara resmi.

Pelaksanaan pelatihan di Pulau Sebatik menjadi kesempatan strategis bagi masyarakat di wilayah perbatasan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus membuka akses terhadap kesempatan kerja yang lebih luas.

Kegiatan tersebut turut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalimantan Utara, LPK Roby Perbatasan, Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI), serta unsur pemerintah dan tokoh masyarakat.

Sementara itu, Camat Sebatik Tengah yang diwakili Kasi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum), Hasrul, S.IP., M.A.P., menilai pelaksanaan pelatihan berskala nasional di Sebatik merupakan kesempatan yang sangat baik bagi masyarakat setempat.

Ia mengatakan, masih diperlukan sosialisasi yang lebih masif agar masyarakat mengetahui berbagai program peningkatan kapasitas dan pelatihan yang tersedia.

Menurut Hasrul, kebutuhan terhadap pelatihan selama ini kerap disampaikan masyarakat melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun, ketika program pelatihan tersedia, animo masyarakat terkadang belum sesuai dengan harapan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih aktif menangkap dan memanfaatkan berbagai peluang peningkatan kapasitas yang tersedia.

“Apalagi wilayah perbatasan. Kita menjadi pintu utama, garda terdepan yang seharusnya tidak jadi penonton, tapi jadi pemain,” kata Hasrul.

Hasrul turut menyampaikan apresiasi kepada LPK Roby Perbatasan yang telah berinisiatif sehingga program pelatihan tersebut dapat dilaksanakan di Pulau Sebatik.

Menurutnya, pelaksanaan pelatihan tidak hanya memberikan manfaat bagi calon pekerja migran dalam meningkatkan keterampilan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

Peserta yang berasal dari luar daerah membutuhkan berbagai fasilitas dan kebutuhan selama mengikuti pelatihan, mulai dari akomodasi, transportasi, konsumsi hingga kebutuhan lainnya. Kondisi tersebut secara tidak langsung turut memberikan manfaat bagi pelaku usaha lokal di wilayah Sebatik.

“Hotel-hotel bisa termanfaatkan, transportasinya bisa termanfaatkan. Ini juga menjadi suatu hal yang baik buat kami di wilayah Sebatik Tengah,” ujarnya.

Keberadaan pelatihan berskala nasional di wilayah perbatasan juga diharapkan dapat semakin memperkuat posisi Pulau Sebatik sebagai salah satu wilayah yang potensial dalam pengembangan sumber daya manusia.

Pemerintah berharap program serupa dapat terus dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak masyarakat di Kalimantan Utara, khususnya generasi muda yang membutuhkan peningkatan keterampilan dan akses terhadap kesempatan kerja.

Dengan keterampilan, sertifikasi serta pemahaman mengenai prosedur penempatan, para calon pekerja migran asal Kalimantan Utara diharapkan mampu bersaing di pasar kerja global sekaligus mendapatkan perlindungan yang lebih baik.

Bagi Sebatik sebagai wilayah yang berada di garis depan perbatasan Indonesia–Malaysia, program peningkatan kompetensi seperti SMK Go Global menjadi peluang untuk mengubah posisi geografis yang strategis menjadi kekuatan sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing.

Melalui pelaksanaan program tersebut, masyarakat perbatasan diharapkan tidak hanya menjadi penonton atas berbagai peluang yang hadir, tetapi mampu mengambil peran sebagai tenaga kerja yang kompeten, profesional, produktif dan mampu bersaing di tingkat internasional. (**)

Share :

Berita Terkait

Populer Post

Recent Post

Scroll to Top