JAKARTA, MP – Kekalahan Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 masih menyisakan kontroversi. Puluhan ribu pendukung Albiceleste menandatangani petisi online yang meminta pertandingan tersebut diulang karena menilai kepemimpinan wasit merugikan timnya.
Petisi itu bahkan memuat tuduhan bahwa wasit asal Slovenia, Slavko Vinčić, telah dipengaruhi atau menerima suap. Namun, hingga kini tidak ada bukti ataupun hasil penyelidikan resmi yang menguatkan tuduhan tersebut.
Final Piala Dunia 2026 digelar di New York New Jersey Stadium pada Minggu (19/7/2026). Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106 atau babak perpanjangan waktu.
La Furia Roja tampil dominan sepanjang laga. Spanyol mencatatkan penguasaan bola sekitar 65% dan melepaskan 20 tembakan, dengan 12 di antaranya mengarah ke gawang. Sebaliknya, Argentina hanya menghasilkan dua tembakan tanpa satu pun tepat sasaran.
Situasi Argentina semakin sulit setelah Enzo Fernández diganjar kartu merah pada menit ke-93. Keputusan inilah yang kemudian menjadi salah satu sorotan utama pendukung Argentina.
Tak lama setelah pertandingan berakhir, seorang penggemar Argentina bernama Gisela Sánchez membuat petisi melalui Change.org. Petisi tersebut mendesak FIFA meninjau kepemimpinan Vinčić dan menggelar ulang final tanpa wasit yang sama.
Pembuat petisi menuding terdapat sejumlah “keputusan korup” dan kejanggalan yang memengaruhi hasil pertandingan. Video dari media sosial mengenai keputusan-keputusan Vinčić turut digunakan untuk mendukung klaim tersebut.
Hingga Kamis (23/7), petisi itu dilaporkan telah memperoleh lebih dari 80 ribu tanda tangan. Jumlahnya terus bertambah seiring petisi tersebut viral dan dibagikan oleh pendukung Argentina di berbagai platform media sosial. LBC dan Cadena SER sama-sama melaporkan jumlah dukungan telah menembus angka tersebut.
Meski demikian, tuduhan suap yang tercantum dalam petisi sejauh ini hanya berupa klaim pembuat dan pendukungnya. Belum ada pernyataan resmi FIFA maupun hasil investigasi yang membuktikan Vinčić melakukan pelanggaran.
Petisi tersebut langsung mengundang perdebatan. Sebagian penggemar Argentina menilai sejumlah keputusan wasit perlu diperiksa, sedangkan fans Spanyol dan netizen netral menganggap tuntutan itu hanya bentuk kekecewaan setelah kalah.
Statistik pertandingan juga menjadi senjata bagi pihak yang menolak petisi. Data pertandingan memperlihatkan Spanyol menguasai permainan dan menciptakan jauh lebih banyak peluang. Catatan resmi FIFA menunjukkan Spanyol memang menang 1-0 dan tampil lebih dominan dalam penguasaan bola.
Peluang pertandingan diulang pun sangat kecil. Berdasarkan Laws of the Game, keputusan wasit mengenai fakta yang terjadi dalam pertandingan bersifat final. Wasit hanya dapat mengubah keputusan dalam kondisi tertentu sebelum permainan dimulai kembali atau sebelum ia meninggalkan lapangan setelah pertandingan berakhir.
Petisi daring juga tidak otomatis memiliki kekuatan untuk membatalkan hasil pertandingan. Diperlukan proses resmi serta bukti adanya pelanggaran berat agar otoritas sepak bola mempertimbangkan tindakan lebih lanjut.
FIFA sejauh ini belum mengumumkan peninjauan maupun rencana menggelar ulang pertandingan. Dengan demikian, hasil final tetap berlaku dan Spanyol resmi menjadi juara Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah sebelumnya mengangkat trofi pada 2010. (**)





