NUNUKAN, MP – Upaya meningkatkan budaya literasi sekaligus memperkuat karakter generasi muda di kawasan perbatasan terus dilakukan melalui berbagai kolaborasi, salah satunya ditunjukkan oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Patok Dua di Kecamatan Sebatik Tengah yang selama beberapa tahun terakhir menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak. Kini, TBM tersebut semakin diperkuat dengan menerima hibah sejumlah tablet dari Enuma Indonesia sebagai sarana pendukung pembelajaran berbasis aplikasi.
Bantuan perangkat digital tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap Program Sekolah Enuma Indonesia yang telah berjalan di TBM Patok Dua. Melalui aplikasi pembelajaran yang dikembangkan Enuma Indonesia, anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif, khususnya dalam meningkatkan kemampuan membaca, berhitung, dan literasi dasar.
Ketua TBM Patok Dua, Ambran Marsudin, mengatakan kerja sama dengan Enuma Indonesia dan LITARA (Literasi Anak Indonesia) telah terjalin sejak 2023. Kolaborasi itu diawali melalui program Pengadaan Buku Bermutu, kemudian berlanjut dengan pelaksanaan Program Sekolah Enuma Indonesia (Sekolah Inumah) yang telah mendampingi puluhan anak di wilayah perbatasan.
“Kami bersama LITARA sudah menjalin kerja sama sejak tahun 2023 melalui kegiatan Pengadaan Buku Bermutu. Kemudian mereka menghadirkan Program Sekolah Enuma Indonesia atau Sekolah Inumah dan telah mendampingi sekitar 60 peserta selama tahun 2024 hingga 2025,” ujar Ambran, Selasa (14/07/2026).
Menurutnya, hibah tablet dari Enuma Indonesia menjadi dukungan penting bagi keberlangsungan pembelajaran di TBM. Perangkat tersebut akan dimanfaatkan sebagai media belajar berbasis digital sehingga anak-anak dapat mengakses materi pembelajaran secara lebih menarik dan mudah dipahami.
“Tablet yang diberikan akan menjadi sarana pendukung pembelajaran berbasis aplikasi yang selama ini digunakan dalam Program Sekolah Enuma Indonesia. Ini tentu sangat membantu kami dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di TBM,” katanya.
Ambran menuturkan, keberadaan program tersebut memberikan dampak positif terhadap kemampuan literasi anak-anak, terutama bagi mereka yang masih mengalami kesulitan membaca. Selain itu, TBM juga memberikan pendampingan kepada anak-anak berkebutuhan khusus agar memperoleh kesempatan belajar yang sama.
“Program ini sangat membantu, terutama bagi anak-anak yang masih belum bisa membaca. Kami juga mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka tetap bisa mendapatkan akses pembelajaran,” ungkapnya.
Peserta kegiatan di TBM Patok Dua berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak usia sekitar empat tahun hingga pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setiap akhir pekan, puluhan anak rutin mengikuti kegiatan membaca, belajar, dan berbagai aktivitas pengembangan diri.
“Kalau hari Sabtu biasanya peserta aktif sekitar 30 sampai 40 anak. Sedangkan hari Minggu terkadang bisa mencapai 60 anak yang datang,” jelas Ambran.
Selain mengembangkan budaya membaca, TBM Patok Dua juga terus berupaya memperluas pembelajaran berbasis digital bagi remaja. Salah satu program yang tengah dipersiapkan adalah pelatihan penggunaan aplikasi pengolah data seperti Microsoft Excel. Namun, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan sehingga program tersebut belum dapat dilaksanakan secara optimal.
“Kami memiliki rencana program pendidikan digitalisasi, seperti pembelajaran Excel. Tetapi karena keterbatasan sarana, pelaksanaannya masih kami tunda sementara,” katanya.
Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Sebatik memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga semangat kebangsaan masyarakat, terutama generasi muda. Karena itu, menurut Ambran, peningkatan literasi harus berjalan seiring dengan penguatan rasa cinta tanah air.
“Sebatik dikenal sebagai wilayah perbatasan. Karena itu, semangat nasionalisme harus terus diperkuat melalui anak-anak. TBM bukan hanya mengajarkan membaca, tetapi juga mengenalkan Indonesia itu sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, anak-anak di kawasan perbatasan perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai identitas bangsa agar tumbuh dengan rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.
“Perbatasan adalah garda terdepan. Bagaimana masyarakat melihat Indonesia dan bagaimana kehadiran negara dirasakan oleh anak-anak menjadi hal yang sangat penting,” tuturnya.
Menurut Ambran, kehidupan di kawasan perbatasan ibarat pertemuan berbagai warna yang dapat saling memengaruhi. Karena itu, penguatan identitas nasional harus terus dilakukan agar masyarakat tetap memiliki jati diri sebagai bangsa Indonesia.
“Negara di wilayah perbatasan ibarat sebuah warna. Ketika warna berbeda bertemu, bisa menghasilkan warna baru. Tetapi kita tetap harus memperkuat warna asli, yaitu identitas negara kita sendiri,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi antara TBM Patok Dua, LITARA, dan Enuma Indonesia, anak-anak di wilayah perbatasan kini tidak hanya memiliki akses terhadap buku bacaan, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar berbasis digital yang lebih inovatif. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan semakin memperkuat budaya literasi, membentuk karakter generasi muda, serta menumbuhkan semangat nasionalisme di beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)





