Pemprov Kaltara Dukung Pembentukan Fakultas Kebudayaan

Tanjung Selor, MK – Dalam upaya memperkuat pembangunan kebudayaan daerah serta mendorong pengembangan pendidikan tinggi berbasis kebudayaan di Provinsi Kalimantan Utara, Yayasan Sejarah dan Budaya Kalimantan Utara menyelenggarakan kegiatan Dialog Kebudayaan bertajuk “Urgensi Kampus/Fakultas Budaya di Kalimantan Utara.”

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membahas berbagai langkah strategis dalam menjaga, mengembangkan, dan melestarikan kekayaan budaya daerah yang menghadapi tantangan perubahan zaman dan perkembangan teknologi informasi.

Dalam dialog tersebut, Asisten III. Taufik Hidayat menegaskan bahwa pelestarian budaya harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, keberadaan kampus atau fakultas budaya sangat diperlukan sebagai pusat kajian, penelitian, dan pengembangan kebudayaan daerah.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita melestarikan kebudayaan kita. Pembentukan kampus atau fakultas budaya ini memang sangat diperlukan agar menjadi tempat untuk mengkaji, meneliti, menelaah, dan menghasilkan rekomendasi bagi pelestarian kebudayaan di Kalimantan Utara,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini berbagai unsur budaya lokal mulai menghadapi ancaman, terutama di kalangan generasi muda. Penggunaan bahasa ibu yang semakin berkurang, melemahnya pemahaman terhadap adat istiadat, serta derasnya arus informasi melalui teknologi digital menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.

“Anak-anak kita sekarang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia sehingga bahasa ibu mulai hilang. Adat istiadat juga mulai berkurang, ditambah pengaruh teknologi dan informasi yang membuat mereka lebih banyak mengenal budaya luar dibanding budaya lokal,” katanya.

Karena itu, pembentukan institusi pendidikan tinggi yang secara khusus fokus pada kebudayaan dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara juga menyatakan terbuka terhadap berbagai rekomendasi yang dihasilkan dari dialog tersebut. Hasil pembahasan nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan melibatkan berbagai institusi dan pihak yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan dan kebudayaan.

“Nanti kami akan melihat rekomendasi yang dihasilkan dari dialog ini. Setelah itu, pemerintah akan mengundang institusi atau instansi yang kompeten untuk membahas lebih lanjut. Jika memang dibutuhkan, tentu tidak menutup kemungkinan untuk diwujudkan,” ungkapnya.

Selain menjadi sarana pelestarian budaya, keberadaan kampus atau fakultas budaya juga dipandang penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang kebudayaan. Generasi muda diharapkan dapat menjadi pelaku sekaligus penjaga warisan budaya Kalimantan Utara di masa depan.

“Persiapan sumber daya manusia harus dilakukan dari sekarang. Jika tidak, budaya kita bisa hilang dan tidak lagi diingat oleh generasi mendatang. Dengan adanya kampus budaya, kita berharap kebudayaan Kalimantan Utara dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.

Melalui Dialog Kebudayaan ini, Yayasan Sejarah dan Budaya Kalimantan Utara berharap lahir gagasan dan rekomendasi konkret yang dapat menjadi pijakan dalam mewujudkan pendidikan tinggi berbasis kebudayaan, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah dinamika perkembangan global.(Fy/red)

Share :

Berita Terkait

Populer Post

Recent Post

Scroll to Top