Pontianak, 2 Mei 2025 – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus mendorong sektor pertanian ekspor unggulan, salah satunya komoditas lada hitam (black pepper), untuk menembus pasar internasional. Dengan produksi yang terus meningkat, Kalimantan Barat kini menargetkan menjadi sentra ekspor lada terbesar di Indonesia dan memperkuat jalur dagang langsung ke negara tetangga, Malaysia.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Barat mencatat, ekspor lada mencapai 9.500 ton pada tahun 2024, naik 18% dibanding tahun sebelumnya. Komoditas ini dikirim terutama ke Malaysia, Singapura, India, dan Jerman, dengan nilai transaksi menembus Rp380 miliar.
“Kami sedang mengembangkan pelabuhan ekspor di Sambas dan Aruk agar petani lada tidak hanya bergantung ke Pelabuhan Pontianak. Ini akan memotong biaya logistik dan mempercepat distribusi ke negara tetangga,” ujar Kepala Disperindag Kalbar, Budi Santoso.
Sentra Lada Terbesar:
-
Kabupaten Sambas: 45% total produksi provinsi
-
Kabupaten Bengkayang: 28%
-
Kabupaten Sanggau: 17%
-
Lainnya: Ketapang, Kapuas Hulu
Inisiatif Pemerintah:
Pemerintah provinsi juga menggandeng perguruan tinggi dan lembaga riset untuk mengembangkan varietas lada unggul tahan hama dan perubahan iklim. Selain itu, program Lada Organik Kalbar 2025 telah diluncurkan, menargetkan 3.000 hektare ladang lada dikelola secara organik untuk memenuhi permintaan pasar Eropa.
Pemerintah juga membentuk Koperasi Lada Kalbar sebagai agregator ekspor petani, untuk menekan dominasi tengkulak dan memastikan harga jual adil.
“Dulu harga bisa jatuh di bawah Rp30.000/kg. Sekarang petani dapat menjual hingga Rp48.000/kg lewat koperasi dan sistem kontrak ekspor langsung,” ujar Ketua Koperasi Lada Kalbar, Ibu Ratna, di Sambas.
Kerja Sama Internasional:
Pada Februari 2025, Kalimantan Barat menandatangani MoU perdagangan langsung dengan dua importir besar dari Penang dan Johor, Malaysia, untuk pasokan lada hitam dan putih secara reguler. Jalur ekspor melalui PLBN Aruk dan Entikong semakin dioptimalkan untuk ekspedisi lintas batas.
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Kalbar, H. Yulius, menyebutkan bahwa Malaysia bahkan tertarik untuk membuka fasilitas sortasi dan pengemasan lada di perbatasan, untuk ekspor ulang ke Timur Tengah.
Tantangan dan Harapan:
Meski menggembirakan, pengembangan lada Kalbar masih menghadapi tantangan, seperti fluktuasi harga global, konversi lahan ke sawit, dan regenerasi petani muda. Oleh karena itu, pemerintah meluncurkan program insentif untuk petani muda dan penyediaan alat olah pascapanen.
Dengan berbagai inisiatif ini, Kalimantan Barat optimis memperkuat posisinya di pasar lada dunia dan mendorong pertumbuhan ekonomi dari wilayah perbatasan.




